ANAK MISTERIUS (CERPEN)

Anak Misterius

Hira Imandari

    Sudah seminggu seorang anak laki-laki misterius terus mengikutiku, tak peduli kemana aku pergi entah itu ketika aku menggelandang dipinggir jalan, mengais sisa makanan dari tong sampah, ataupun berjalan tanpa tujuan seakan tahu bahwa takdirku memang sudah digariskan untuk hidup dijalanan.

    Anak laki-laki itu, entah mengapa aku merasa nyaman dan tidak terganggu ketika dia terus mengikuti ku kesana kemari, namun anehnya dia sama sekali tidak pernah berbicara sejak pertemuan pertama kami, sampai sekarang pun bahkan namanya saja aku tidak tahu. Dia terus memasang ekspresi dingin yang bisa membuat orang merinding kala memandang matanya.

    Tentu anak itu berbeda denganku yang kusam, dekil, dan bau, dia tampan, wajahnya seakan memancarkan cahaya, matanya berbinar, bibirnya indah, dan sekujur tubuhnya menguarkan aroma harum yang entah dari mana datangnya, hingga aku tak percaya anak ini rela hidup menggelandang bersamaku, jika dia di panti asuhan aku yakin pasti sudah ada beberapa pasangan konglomerat dermawan yang dengan sukarela mengadopsinya menjadi tuan muda keluarga kaya.

    Suatu kali aku pernah bertanya kepada anak itu, “hei kenapa kau terus mengikutiku? tidakkah kamu terpikir untuk pergi ke panti asuhan? dengan wajah sejuta dollar mu itu aku yakin kau akan diadopsi oleh keluarga kaya!”, dia hanya melirikku dengan tatapan penuh tanya seakan berkata “untuk apa aku ke panti asuhan?”, namun ya percuma aku bertanya padanya toh dia tetap diam seribu bahasa, bodohnya aku.

    Aku sudah terbiasa dengan kehadiran anak laki-laki misterius itu di sekitarku, aku berpikir dia anak yang baik, entahlah apa karena dia mau menemaniku kesana-kemari tanpa menjustifikasi bahwa aku hanyalah anak gelandangan tanpa tujuan, atau karena alasan lain yang tidak aku mengerti. Dia hanya diam, membisu sambil menatapku melakukan segala hal yang aku bisa.

    Hingga suatu hari, entah kenapa badanku terasa berat, pandanganku kabur, sekujur tubuhku sulit digerakkan, aku mengeluarkan keringat dingin, dan nafasku tersenggal-senggal, kupikir aku hanya demam biasa, maka kuputuskan untuk membaringkan tubuhku di pojokan gang sempit diatas selembar kardus, hari itu aku tidak melihat anak misterius itu, entah kemana dia pergi, apakah pada akhirnya dia mengikuti saranku untuk pergi ke panti asuhan, kalau benar begitu, itu lebih baik untuknya daripada hidup luntang lantung di jalan.

    Namun, tenyata aku salah dengan pandangan yang semakin mengabur aku melihat anak laki-laki itu datang mendeket seraya mengulurkan tangan mulusnya kepadaku, dan untuk pertama kalinya aku mendengar akan itu berbicara kepadaku, “kak.. ikut aku yuk?”, katanya dengan suara yang sangat merdu bagai simfoni yang diperdendangkan oleh alam, “kemana?”, tanyaku dengan suara parau yang lemah, “ke tempat yang lebih baik, dan lebih indah daripada disini!”, sambil tersenyum dia menggaet tanganku, saat itu pula aku merasakan tubuhku semakin ringan dan entah mengapa jiwaku menjadi tenang. Aku pergi bersamanya, menuju tempat yang ia maksudkan kepadaku, melintasi sebuah terowongan cahaya yang segera raib kala aku menolehkan pandangan ke belakang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW MANHWA : I'M STANNING THE PRINCE

Tradisi dan Kontradiksi Pengenalan Kampus, Dihapuskan atau Malah Harus Dilestarikan?

REVIEW MANHWA : THE DUCHESS' 50 TEA RECIPES (50 RESEP TEH DUCHESS)

Catatan Etnografis - Hidden Gem dari Madura, Kamal Sebagai Pusat Maritim di Kabupaten Bangkalan? Apakah Bisa?

CULTURE SHOCK? Kehidupan Kampus Ternyata....

Suramadu, Tolak Ukur Kemajuan Madura?

LA LETTRE D'AMOUR (CERPEN)

Dibodohi Oleh Dongeng

APLIKASI KOMIK ONLINE INI WAJIB ADA DI SMARTPHONE KALIAN PARA 2D LOVERS!

DIA YANG HADIR DI HARI HUJAN (CERPEN)