DIA YANG HADIR DI HARI HUJAN (CERPEN)
Dia Yang Hadir Di Hari Hujan
Hira Imandari
Hari ini aku benar-benar sial. Senin pagi yang menyambut dengan langit mendung dan hawa sejuk membuatkan bermalas-malasan di kasur dan menyebabkan aku terlambat 15 menit untuk kelas pagi di kampus, lalu sialnya kelas pagi ini akan diisi oleh dosen paling killer seantero kampus. Aku sukses dimarahi habis-habisan dan dilarang mengikuti kelasnya minggu ini, lalu kemudian aku mendapatkan tugas tambahan darinya 3 kali lipat lebih banyak dari teman-temanku.
Kesialan tak berhenti sampai disitu, hujan dengan rintik agak deras mulai mengguyur tatkala aku hendak kembali pulang kerumah, aku memacu sepeda motorku agak ngebut supaya ketika sampai aku tidak akan terlalu basah dan buku ku bisa selamat, namun sepertinya Dewi Fortuna tetap belum berpihak kepadaku, baru 200 meter aku keluar dari pekarangan kampus tak lama kemudian ban motorku bocor. Rencana pulang tanpa terlalu kebasahan gagal total dan sebagai gantinya aku harus berjalan agak jauh untuk menemukan bengkel.
Untungnya, sekitar 150 meter dari tempat ban motorku bocor, aku menemukan sebuah bengkel kecil yang di tempati oleh seorang pria paruh baya dan anak muda yang duduk luntang-lantung sambil merokok. Aku tak banyak berpikir, langsung saja ku bawa motor bebekku kepada si montir paruh baya itu.
Sejujurnya aku agak kurang nyaman duduk menunggu di dekat bengkel itu, suasana menjelang maghrib yang cukup sepi membuatku agak was-was kalau-kalau ada yang ingin melecehkanku, aku mungkin terkesan terlalu banyak berimajinasi dengan pikiran yang tidak-tidak namun tidak ada salahnya bukan jika aku mengantisipasi hal yang tidak mengenakkan.
Di tengah ketidaknyamananku menunggu, mataku tertuju pada sebuah angkringan sederhana yang ada di seberang bengkel ini, jaraknya cukup dekat aku hanya perlu menyeberangi jalan raya dan ku pikir duduk santai sebentar sambil menaikkan suhu tubuh dengan segelas susu jahe panas dan beberapa gorengan adalah ide yang bagus.
Aku meninggalkan motorku yang sedang di reparasi di bengkel itu, dan berlari menerobos rintikan hujan menuju angkringan. Nafasku agak tersengal karena sudah lama aku tak berlari. Ku pesan segelas susu jahe hangat dan 2 buah jalangkote. Ah.. betapa nikmatnya, segelas jahe hangat dan jalangkote menemaniku di tengah-tengah senja gelap yang diguyur rintikan hujan, ku rasa penat dan kesialanku hari ini bisa sedikit berkurang karena suasana syahdu yang menyelimuti diriku.
Aku menikmati hidangan sederhana di bawah tenda angkringan tatkala aku melihatnya untuk pertama kali, seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun yang juga berteduh, duduk agak jauh dariku di bawah tenda angkringan ini, sambil membawa 2 buah payung dengan pakaian lusuh agak basah dan tubuh mungil yang menggigil. Aku merasa iba dengan anak kecil itu, lantas ku panggil dia untuk mendekat sedikit ke arahku.
“Hai Dik.. Bisakah kau mendekat kemari?”, Panggilku kepadanya. Dia pun menoleh, dengan agak takut perlahan dia mendekatkan dirinya ke arahku.
“Mau ojek payung Kak?”, Tawarnya kepadaku. Ternyata dia anak kecil yang berprofesi sebagai ojek payung, kurasa dia adalah anak jalanan yang tinggal di sekitar wilayah ini.
“Ah.. Tidak Dik! Aku melihat beberapa saat yang lalu kau berteduh kemari, kau nampak pucat dan kedinginan!”, Kataku sambil tersenyum kepadanya.
Anak itu terdiam, raut wajahnya mudah tertebak bahwa saat ini dibanding kedinginan sepertinya dia merasa kecewa karena maksudku memanggilnya bukan untuk menggunakan jasa ojek payungnya. Sejujurnya aku merasa agak bersalah.
“Tidak masalah Kak! Saya sudah terbiasa seperti ini, saya tidak akan sakit hanya karena terkena beberapa tetes air hujan!”, Jawabnya sambil tersenyum ramah.
Beberapa tetes hujan katanya? Tubuh mungil yang hampir separuh basah sambil gemetar menahan hawa dingin dari angin yang berhembus mustahil hanya terkena beberapa tetes air hujan. Lantas, tanpa berpikir lagi aku memesankan segelas teh hangat dan singkong goreng untuknya, minimal dia bisa menghangatkan tubuh walau hanya dengan kudapan sederhana ini.
“Nah Dik.. Minumlah teh hangat ini supaya tubuhmu tidak terlalu menggigil, lalu makan singkong goreng ini setidaknya perutmu bisa terisi walau sedikit!”, Aku menyodorkan teh hangat dan singkong goreng yang tadi ku pesan.
Anak kecil itu menoleh kearahku dengan mata berbinar sambil malu-malu, dari tatapannya aku menebak bahwa dia belum makan apapun hari ini.
“Benarkah Kah? Apa saya boleh makan ini?”, Tanyanya semangat, aku mengangguk sambil membelai rambutnya yang halus. Dia tersenyum senang dan memakan kudapan itu dengan lahap.
Ku pikir, anak laki-laki kecil ini berbeda dari anak jalanan pada umumnya, walau tubuhnya kurus ceking dengan baju compang-camping namun perawakannya cukup tampan, rambut hitamnya halus, bulu matanya indah, jari-jemari mungilnya lentik, bibirnya semerah ambrosia, dan kulitnya berwarna langsat, dia cukup terawat jika dibilang sebagai anak jalanan liar.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu Dik?”, Tanyaku penasaran.
Dia menoleh kearahku dengan ujung bibir yang dipenuhi oleh serpihan singkong gorengnya, aku tertawa gemas lalu mengelapnya dengan sapu tangan di sakuku.
“Nama saya Aksa!”, Ah.. Nama yang indah, Aksa artinya jauh.
“Namamu bagus sekali! Oh ya, biar impas perkenalkan nama ku Ganga!”, Aku mengulurkan tanganku bermaksud untuk menjabatnya.
“Nama saya tidak sebagus kakak. Ibu memberi nama Aksa kepada saya karena teringat Ayah yang berada jauh entah dimana!”, Aksa berekspresi datar kala menceritakan asal namanya, biasanya anak kecil seusia Aksa akan terlihat sedih ketika menceritakan latar belakangnya yang runyam. Bocah mungil ini sebenarnya kenapa?
“Ah.. Um.. Apakah singkong gorengnya enak?”, Aku mengalihkan pembicaraan memilukan tadi.
“Iya.. Sangat enak, terlebih saya belum makan seharian ini jadi terasa lebih nikmat!”, Aksa tersenyum sumringah kepadaku, lewat senyuman itu aku merasakan sebuah kepiluan yang tak bisa ku bayangkan. Dengan tubuh mungilnya dia bertahan dari dinginnya hujan dan kelaparan yang menggerayang.
“Apa Aksa tidak lelah bekerja seharian?”, Tanyaku lagi.
“Lelah, tapi jika Aksa tidak bekerja Aksa tidak akan bisa makan!”, Jawabnya sambil menenggak teh yang tersisa.
“Ibu Aksa kemana?”
“Ayah tidak pernah hadir sejak Aksa lahir di dunia ini, dan Ibu pergi ke tempat yang jauh ketika Aksa berumur 6 tahun karena Ibu membenci Aksa!”, Jawabnya sambil tersenyum. Ada rasa perih yang meggerogoti hatiku, aku tak bisa membayangkan di usia nya yang masih sekecil ini bagaimana dia bisa bertahan hidup dari kekejaman dunia.
Senyuman Aksa yang begitu manis dan mampu mencuri hatiku pada pertemuan pertama kami ternyata menyimpan beribu duka, untuk bocah semanis Aksa ku pikir dia tak cocok hidup sebatang kara dan luntang lantung di jalanan.
“Ku pikir Ibu Aksa tidak membenci Aksa. Beliau hanya pergi sebentar, agar ketika kembali kepadamu nanti, Aksa bisa hidup lebih baik!”, Aku menghibur Aksa sambil membelai rambut hitamnya.
“Begitukah? Syukurlah, Aksa pikir Ibu membenci Aksa!” Wajah Aksa kembali sumringah, aku mengangguk mengiyakan perkataannya. Namun, hiburan hanya sebatas hiburan, mustahil Ibu nya akan kembali memeluk Aksa kembali. Tapi ya, aku tak bisa mengatakan kebenaran tentang dunia orang dewasa yang rumit kepada bocah polos ini.
Waktu berlalu hampir satu jam, Masjid-Masjid disekitar wilayah ini sudah selesai mengumandangkan adzan, jumantara sudah menghitam namun rinai hujan belum berkesudahan. Aku kembali teringat akan motorku yang masih berada di bengkel setelah asik mengobrol dengan seorang bocah bernama Aksa, ku pikir aku sudah cukup lama mengistirahatkan tubuhku ini di bawah tenda angkringan sederhana. Lantas ku katakan pada Aksa, bahwa aku harus kembali pulang kerumah.
“Aksa.. Sepertinya aku harus pulang sekarang, langit sudah gelap. Dan motorku pasti sudah selesai di reparasi!”, Pamitku padanya.
“Ah.. Baiklah Kak. Aksa juga harus kembali bekerja!”, Jawabnya.
Ah iya.. Bocah ini bekerja sebagai ojek payung, ku pikir tidak ada salahnya menyewa jasanya untuk sampai ke bengkel di seberang jalan, setidaknya bajuku yang sudah agak kering tidak kembali basah.
“Oh iya.. Aksa, bisakah aku menyewa jasa ojek payungmu itu?”, Tanyaku sambari membayar kudapan dan minuman kami di angkringan itu.
“Wah.. Sungguh Kak? Tentu saja bisa, dengan senang hati!”, Mata Aksa berbinar menyambut tawaranku.
Pada akhirnya, aku dan Aksa berjalan menuju bengkel di bawah naungan payung sambil ku gandeng tangan mungilnya.
“Nah.. Aksa, sampai sini saja ya!”, Ku kembalikan payung yang ku pinjam padanya dan memberikan selembar uang 20 ribu rupiah.
“Kak.. Ini terlalu banyak, ojek payungnya hanya 5 ribu saja!”, Katanya menolak.
“Tidak masalah, belilah makanan yang enak dengan uang ini. Karena hari ini Aksa sudah menemaniku di tengah hujan yang sepi!”, Aku tersenyum sambil membelai pipi mulusnya.
“Te.. Terima kasih Kakak cantik!”, Dia akhirnya menerima uangku meskipun dengan perasaan sungkan.
“Sampai bertemu lagi Aksa, berhati-hatilah ya..!”, Aku melambaikan tanganku kepadanya, dia tersenyum sumringah dan berlari hingga menghilang di belokan dekat toko loak. Anak yang manis pikirku.
Motorku sudah selesai di reparasi, aku mengambilnya dan segera pulang. Dalam perjalanan, ku mengingat selalu momen perjumpaanku dengan Aksa, si bocah ojek payung yang tangguh.
Hingga sampai di rumahpun, uluman bibirnya kala tersenyum dan suara tawanya terus terngiang di benakku.
Hari-hari berikutnya, aku selalu berjumpa dengan Aksa selepas pulang kuliah. Aku selalu menunggunya di tempat yang sama, ya di bawah tenda angkringan sederhana itu, aku menunggunya untuk menceritakan hal baru apa yang ia alami, kala bersamanya pun aku mencurahkan isi hatiku sebagai gadis kesepian.
Cerita-cerita tentang perjuangannya untuk bertahan hidup dengan tubuh sekecil itu mampu mencubit hati, jiwa dan ragaku. Aku merasa tertampar, Aksa bocah itu bertahan hidup di tengah-tengah pergulatannya dengan dunia luar yang begitu kejam, bagiku dunia luar ini justru membentuknya menjadi bocah yang dewasa sebelum berkembang.
Ketika anak seusianya sibuk bermain, dia bekerja. Ketika anak seusianya sibuk merengek, dia hanya terdiam, merengek dalam keheningan tanpa satu orang pun yang tahu. Ketika anak seusianya harus sekolah, dia malah membanting tulang. Namun, kurasa Aksa tak perlu sekolah karena dunia di depannya adalah guru untuknya, mengajarkan dia bagaimana harus bertahan hidup, bagaimana harus lari dan melupakan masa lalu, dan bagaimana dia harus menghadapi kotornya jalanan yang ia tinggali. Aksa lebih kuat dari anak seusianya, Aksa lebih bijak, dan Aksa lebih dewasa. Lalu lucunya, aku selalu melihat anak itu bahagia. Dik... Apakah kau tidak lelah?
Namun, di balik itu akankah bocah tampan nan manis ini harus kehilangan masa kecilnya yang berharga? Kekejaman dunia luar mampu melunturkan tawa sumringah itu dari Aksa sewaktu-waktu, aku tak ingin melihat tawa Aksa luntur dari bibirnya, aku selalu ingin melihat Aksa bahagia.
Ayah Ibunya, bahkan tak layak di panggil dengan sebutan sakral itu. Mereka hanya sebatas bajingan yang membuatnya lahir ke dunia dan dengan tega meninggalkan dia di tempat tanpa atap yang disebut jalanan.
Di dalam lamunanku, kadang terbesit pikiran untuk mengadopsinya dan memberinya makan dan tempat tinggal. Toh mengurus satu anak takkan membuatku miskin. Pertemuan kami yang cukup sering sejak hari hujan itu membuat kami menjadi akrab satu sama lain, jadi tidak ada salahnya jika aku membawa Aksa ke rumah dan merawatnya layaknya adikku sendiri.
Rumah sebesar itu, juga tidak akan terasa sempit apabila di tempati satu bocah kecil. Dari pada dia harus menunggu ketidakpastian akan kehadiran Ibunya yang entah dimana lebih baik Aksa bersamaku, kami akan bergantung satu sama lain. Sudah ku putuskan, ketika bertemu dengannya sore nanti, aku akan mengajak dia ke rumahku.
Petir dan guntur saling menyambar bersahut-sahutan, angin kencang berhembus tak berkesudahan, sore itu lagi-lagi turun hujan, kini bukan rintik ataupun rinai namun guyuran deras yang turun ke tanah. Langit sore yang dihiasi Cumulunimbus menjadi abu-abu gelap, hawa yang kelewat dingin mulai merayap, aku memacu motorku menuju angkringan sederhana itu untuk bertemu dengannya.
Aku sudah sampai, lama ku tunggu namun kehadiran bocah kecil itu tak kunjung datang, hingga suara adzan berkumandang, lalu ku putuskan untuk pulang. Dia tak datang, jadi kupikir mungkin besok aku bisa bertemu dengannya dan memberitahu Aksa kabar gembira itu.
Hari-hari berikutnya, aku selalu menunggu Aksa. Tetap di tempat yang sama. Namun, sudah seminggu aku tak melihatnya, jalanan yang terasa sepi di kala menjelang maghrib semakin terasa sunyi tanpa kehadirannya. Sebenarnya.. Kamu kemana Aksa? Aku membatin. Lagi-lagi saat itu aku harus pulang dengan perasaan kecewa.
Hari ke delapan, sama seperti biasanya selepas pulang kuliah aku tetap menunggunya di bawah tenda angkringan sederhana pinggir jalan. Namun, tak kusangka hari ini angkringan itu tutup, lantas ku menunggunya dengan duduk di trotoar. Hari itu agak mendung, namun sang hujan tidak turun.
Hampir setengah jam aku menunggu dengan mata yang sedikit mengantuk, aku terdiam hingga seseorang menepuk pundakku. Aku agak kaget, dan reflek menepis tangannya. Aku langsung menoleh, ku pikir itu adalah Aksa, namun yang ku temukan malah wanita paruh baya pemilik angkringan sederhana yang kini tutup. Aku diam, dan memasang wajah seakan bertanya ‘Ada perlu apa?’
“Mbak Ganga!”, Dia memanggilku lagi.
“Ada apa Mbok? Oh iya, angkringan Mbok Ja nggak buka?”, Aku malah bertanya hal yang tidak penting. Mbok Ja-Pemilik angkringan itu menggelengkan kepalanya.
“Saya kesini hanya ingin menyampaikan ini!”, Mbok Ja menyodorkan secarik kertas yang terlihat lusuh kepadaku, aku bingung, sebenarnya ada yang mau ia sampaikan.
Aku menerima secarik kertas itu tanpa bertanya lebih lanjut, lalu tanpa basa-basi akupun membuka dan membacanya.
Halo Kakak cantik...
Surat ini Aksa yang tulis loh.. Aksa minta maaf karena seminggu ini Aksa tidak menemui Kakak cantik. Aksa harus pergi. Setelah dipikir-pikir Aksa sangat rindu dengan Ibu, jadi Aksa memutuskan untuk mencari Ibu.
Aksa tidak tahu kemana Ibu pergi, namun Kakak cantik tenang saja, karena Aksa akan berusaha keras untuk menemukan Ibu! Dan nanti, saat bertemu... Kalaupun Ibu tidak menginginkan Aksa lagi, Aksa tidak masalah. Aksa cukup senang karena bisa menemukan Ibu.
Setelah Aksa bertemu Ibu, Aksa berjanji akan menemui Kakak cantik seperti biasanya. Kakak cantik jangan sedih ya.. Aksa pergi tidak lama, Aksa pasti akan kembali. Selama Aksa tidak ada, Kakak cantik harus kuat ya.. Kakak cantik tidak kesepian kok, karena Aksa ada bersama Kakak cantik.
Aku menggenggam surat itu, dan tanpa ku sadari air mata mulai berjatuhan di pelupuk mataku. Aksa pergi menemui Ibunya, kini akankah dia menepati janjinya akan menemuiku suatu saat nanti.
“Mbak Ganga! Surat ini, Aksa yang berikan 2 hari yang lalu, beberapa saat sebelum dia memutuskan untuk pergi mencari Ibunya yang entah dimana. Namun, jika Mbak Ganga mengharap Aksa akan kembali menemui Mbak seperti yang dia katakan di dalam suratnya, hal itu mustahil terjadi!”, Mbok Ja, yang kini duduk di sebelahku mulai membuka suara, aku menatapnya, bingung dengan perkataan Mbok Ja.
“Maksud Mbok Ja bagaimana?”, Tanyaku. Kini firasatku mengatakan sesuatu yang buruk, dadaku agak terguncang, ku harap perkataan Mbok Ja tidak memiliki artian buruk.
“Hari itu, hujan cukup deras, Aksa datang ke angkringan saya 2 jam setelah Mbak Ganga meninggalkan angkringan ini dengan tubuh basah kuyup lalu menyampaikan surat itu. Namun, beberapa saat kemudian seorang pengendara mobil yang mabuk, dengan kecepatan tinggi tidak sengaja menabrak bocah itu ketika sedang menyeberang. Tubuh Aksa yang kecil tidak mampu bertahan, jadi sebelum di bawa oleh Ambulans, Aksa wafat dengan tubuh penuh darah!”, Mbok Ja memberitahuku hal yang sebisa mungkin ku tepis dari tadi.
Tubuhku seketika membeku, aku tidak bisa berkata apa-apa, mulutku terkunci, aku bagaikan di sambar petir di siang bolong. Kabar menyesakkan itu, akhirnya ku dengar sendiri dengan telinga ini. Tidak mungkin, pasti mereka berdua sepakat untuk mengerjaiku.
“Ti.. Tidak mungkin.. Mbok Ja bercanda kan?”, Suaraku bergetar. Aku mencengkeram pundak Mbok Ja, iya aku berharap dia berkata “It’s a Prank...!”, namun dia tetap diam saja dengan ekspresi penuh penyesalan.
“Tidak Mbak.. Saya tidak bercanda. Aksa tewas di pangkuan saya. Saya sendiri dan marbot masjid sekitar yang menguburkan jasad Aksa!”, Mbok Ja berkata lirih, raut wajahnya tak mengenakkan, ku rasakan getir di dalam suaranya yang pelan.
“TIDAK! Mbok Ja berbohong, di.. di surat ini Aksa berjanji untuk menemui saya lagi. Ah iya benar, pasti Aksa sedang mencari Ibunya. Aksa belum meninggal! Dia harus menemui saya, Aksa tidak meninggal Mbok...!”, Aku berteriak histeris, hingga orang-orang yang lewat memperhatikan kami. Aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Mbok Ja.
Aku masih tidak percaya.. Bocah itu pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku. Ketidak percayaanku itu, baru bisa berakhir ketika kini aku berada di depan makam yang bertuliskan nama Aksa pada nisannya.
Hari itu juga, setelah menerima surat Aksa aku langsung pergi menuju makamnya berbekal alamat dari Mbok Ja. Yang awalnya ku pikir itu hanya bercandaan mereka, namun kini aku tersadar oleh kenyataan bahwa bocah mungil itu sudah terkubur di bawah gundukan tanah yang dingin.
Aku langsung bersimpuh di depan makam Aksa, kaki ku lemas, tenagaku seakan sudah habis, masih tidak bisa percaya kenyataan menyakitkan yang kini terpampang di depan mata.
“A.. Aksa.. Dik.. Kenapa kau meninggalkanku semendadak ini? Kau hanya pamit untuk mencari Ibu mu, kau tidak pamit kepadaku untuk pergi berkelana di langit.”, Aku menangis sambil mendekap nisan Aksa.
“Kau jahat Dik.. kau pergi tanpa pamit padahal disini aku sangat merindukan kehadiranmu yang mampu membawa musim semi di hatiku yang sudah lama mendung!”
“Bisakah kau mendengarku Aksa.. Disini, aku merindukanmu. Aku berharap bahwa ini hanya mimpi buruk belaka, dan ketika ku membuka mata semua akan baik-baik saja seperti sedia kala! Aksa.. Akankah kau kembali kepada Kakak cantikmu ini?”, Tangisku semakin menjadi.
Aku berada di makam Aksa hampir 2 jam, aku menangis, aku mengeluh, dan aku mengatakan kepadanya bahwa ini hanya mimpi dan kini aku merindukannya, berharap dia kembali, berharap kini dia berdiri di depanku dengan tawa sumringahnya yang lucu. Namun semua itu hanya angan yang takkan terwujud, Aksa sudah benar-benar tiada.
Hujan deras mengguyur tubuhku dan makam Aksa, hujan sore ini seperti mewakili perasaan kehilanganku akan sosok bocah manis itu. Aku pulang dengan perasaan kacau.
Selama beberapa bulan, aku belajar untuk menghadapi kenyataan, aku belajar untuk mengikhlaskan, karena seberapapun aku berusaha, seberapapun aku menangis hingga mataku berdarah, dan seberapapun aku menyumpah serapahi Tuhan, Aksa tidak akan kembali hadir untukku.
Sudah setahun Aksa pergi untuk salama-lamanya. Kini aku sudah sadar dan ikhlas akan kenyataan bahwa bocah manis itu tidak akan kembali. Aku sudah mengikhlaskannya untuk kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
“Hai Aksa.. Kakak cantik datang lagi!”, Aku mengunjungi makamnya dengan membawa sebuket bunga iris, sebagai manifestasi dari persahabatan kami. Aku bersimpuh di depannya lalu mendoakan Aksa.
“Apa kau tahu Aksa, mengapa setiap mengunjungimu aku selalu membawakan bunga iris?”, Kataku padanya.
“Iris memang bunga yang indah, namun iris memiliki makna yang dalam. Iris putih yang selalu ku letakkan di depan nisanmu melambangkan kesucian, selain itu iris juga menifestasi dari kekuatan, ketangguhan, dan persahabatan. Layaknya dirimu, Ganga mengenal Aksa sebagai bocah kecil polos yang tangguh dan dalam sekejap Aksa menjadi sabahat dari Ganga!”, Aku tersenyum sambil mengelus nisannya.
Aku memang tak akan bisa melihatnya lagi, aku memang tak akan bisa menikmati tawanya lagi, namun aku beryukur. Tuhan yang dulu kumaki karena merampasnya dari ku kini kuucapkan terima kasih kepada-Nya.
Aku berpikir, mungkin itulah cara Tuhan untuk membuatmu bahagia. Aksa.. Kini bocah kecil itu tak lagi harus menghadapi dunia yang kejam, tak harus berperang dalam pergulatan di jalanan, tak harus kedinginan ketika malam datang, dan perutnya tak harus kelaparan.
Seperti makna namanya, jauh. Kini Aksa sudah pergi jauh, di tempat dimana dia seharusnya bahagia tanpa harus menderita. Tuhan mengambilnya karena Aksa memang berhak untuk bahagia.
“Hai Aksa.. Baik-baiklah dipangkuan Tuhan, jangan nakal ya.. Kakak cantik harus pergi, nanti Kakak cantik akan kembali lalu menceritakan semua yang aku alami kepada Aksa, seperti Aksa bercerita kepadaku dulu!”, Aku terdiam sebentar sambil memandangi makam Aksa yang kuhias dengan taburan bunga-bunga cantik dan sebuket bunga iris yang berdiri indah di depan nisannya.
Aku menatap gugusan jumantara yang nampak cerah, pelangi cantik menampakkan kemolekan dirinya kala rintik-rintik hujan mereda, langit indah itu ibarat Aksa yang menyambutku dari tempatnya kini berada.
Aku tahu Aksa akan selalu mendengarkanku dari atas langit tempatnya berada. Aku yakin di tempat nya yang baru Aksa sedang berbahagia, bermain, makan, dan tidur di dalam pangkuan yang Maha Kuasa. Tuhan yang mengambilnya dari dunia merupakan perwujudan rasa cinta kasihnya kepada Aksa. Kurasa, Tuhan pun sudah muak melihat penderitaan Aksa di dunia ini. Ya.. Aku sangat yakin, pilihan ini memang yang terbaik untuk Aksa.
Tuhan.. Tolong sampaikan rasa sayangku kepada Aksa yang kini di dekatmu. Katakan padanya bahwa Ganga bersyukur bisa bertemu Aksa, katakan padanya bahwa disini, Ganga sedang merindukan Aksa, katakan padanya bahwa Kakak cantiknya ingin bertemu Aksa, pertemukanlah diriku dengannya lewat bunga tidur yang kau anugerahkan setiap malamnya, dan katakan kepadanya bahwa kakak cantiknya selalu berharap semoga Aksa bahagia.
Aksa.. Bocah kecil nan manis, terima kasih telah hadir di hari hujan yang sepi kala itu, terima kasih sudah mengisi ruang kecil dari hati yang sudah hampir membeku dengan kehangatan, terima kasih sudah menjadi teman Ganga si gadis kesepian.
Aksa.. Bocah kecil nan lugu, dia yang hadir di hari hujan dan dia yang pergi di hari hujan. Dua hujan dengan perasaan yang berbeda. Aksa kecil yang hadir di hari rinai hujan rintik-rintik datang mendekat kepadaku dan Aksa kecil yang pergi di hari hujan dengan rinai mengguyur berkelana jauh tanpa bisa ku gapai kembali ke sisiku.
Komentar
Posting Komentar