ANARKI (CERPEN)
Anarki
Hira Imandari
Aku kenal dengan seorang bocah, Anarki namanya. Katanya, nama adalah doa namun tak sesuai dengan namanya bocah laki-laki yang aku kenal ini sangat pendiam, jauh dari kata anarki. Entah apa yang ada dipikiran kedua orang tuanya, memberi nama seorang anak dengan makna yang buruk.
Anarki adalah seorang remaja yatim piatu yang bernasib malang, di usia yang seharusnya bersenang-senang dengan kawan sejawatnya, bahkan satu anakpun tidak ada yang mau mendekat kepada Anarki. Kupikir karena itulah dia menjadi sangat pendiam, dan seakan menutup dirinya dari dunia. Lebih mengenaskan lagi, bocah-bocah sialan yang mengelilinginya justru memperlakukan Anarki dengan buruk, terkadang ku temui bocah itu pulang dari sekolah dengan pakaian yang lusuh dan kusam, wajahnya pun penuh dengan lebam yang entah darimana ia dapatkan.
Bertahun-tahun ia menahan segala penghinaan dan penganiayaan dari para bocah bau kencur itu, hingga pada satu malam yang dihiasi dengan rintikan hujan dan angin yang cukup kencang dia berkata kepadaku, “Ikut denganku yuk? Kita akan bersenang-senang malam ini!”, katanya kepadaku sambil mengulum senyum, tanpa basa-basi aku mengikutinya, berjalan menyusuri jalanan remang disekitar komplek.
Hingga pada akhirnya kami sampai disebuah rumah yang cukup mewah, ah.. sepertinya kami akan bersenang-senang disini. Sepi.. itulah yang kurasakan kala pertama kali menginjakkan kaki dirumah mewah ini, namun tak masalah justru itu lebih baik. Aku melihat Anarki menikmati saat-saat ketika kami bersenang-senang, tersungging di balik wajahnya yang tampan itu sebuah senyuman puas. “Aku sudah cukup puas, kita kembali yuk? Besok kita bersenang-senang lagi!”, aku mengikutinya keluar dari rumah itu, dia berjalan pulang sambil bersenandung ria dengan wajah berseri.
Pagi itu sang mega seperti sedang murka, dihiasinya langit dengan gumpalan abu-abunya yang siap memuntahkan badai kapanpun ia mau, Anarki duduk disebuah bangku reot sambil menikmati teh, hingga seorang loper koran datang melemparkan koran hari ini tepat didepan kakinya. Diambillnya koran itu dan ia baca headline berita, yang berjudul “KASUS PEMBUNUHAN MARCUS, DITINGGAL SENDIRI DAN DITEMUKAN TIDAK BERNYAWA”, selain headline yang ditulis dengan font ukuran besar, halaman pertama koran itu juga dihiasi sebuah foto korban pembunuhan.
Aku mencuri lihat, dan foto itu merupakan anak yang semalam bersenang-senang denganku dan Anarki. Anarki menyeringai lebar dengan tawa keras yang keluar dari bibir indahnya, kilatan cahaya dan guntur keluar dari abu-abunya sang mega menambah semarak suasana mencekam disekitarku dan Anarki, dia lalu berkata “Hei.. ingat! Malam ini kita akan bersenang-senang lagi!”, katanya sambil menyeringai.
Kini kutahu makna nama Anarki yang sebenarnya, namun tak masalah selama Anarki bahagia dan senyumannya bisa selalu terulum di bibir indahnya itu. Aku, si pisau dapur, sahabat setianya akan terus ikut dengannya untuk bersenang-senang dengan bocah-bocah sialan yang menghinanya kala itu.
Terhura๐ญ
BalasHapus