Dibodohi Oleh Dongeng
OPINION ARTICLE
Aku masih ingat betul, saat berusia 4 10 tahun aku sangat menyukai dongeng-dongeng atau cerita rakyat yang biasanya ku baca lewat buku-buku yang di belikan oleh orang tua. Dahulu aku hanya berpikir bahwa kisah-kisah yang aku baca begitu "magical", luar biasa, yang jahat akan dikalahkan oleh yang baik. Untuk pikiran naif anak-anak kisah-kisah yang diceritakan terasa tidak ada masalah sama sekali dan baik-baik saja. Karena memang pemikiran anak kecil begitu sederhana seperti, "Penjahat pasti akan kalah", "Yang buruk rupa pasti orang jahat", "Dia nggak salah soalnya tokoh baik dan pemeran utama", "Wah hebat banget bisa mengalahkan penjahat", "Wah keren ajaib sekali kekuatannya". Ya... itu pemikiran-pemikiran naif ku dahulu ketika masih kanak-kanak, dan aku yakin para pembaca sekalian juga memiliki argumentasi yang sama pula.
Namun, ketika aku beranjak dewasa, di mana pemikiran dan opini-opini sudah mulai terbentuk dan matang. Aku sadar bahwa selama ini masa kecil ku dibodohi oleh dongeng-dongeng pengantar tidur yang seolah indah namun realitanya sungguh mengenaskan. Terdapat nilai-nilai negatif yang tentu tak bisa dipahami oleh pola pikir anak-anak yang naif dan sederhana, dan dengan mudahnya mencekoki bocah-bocah dengan cerita-cerita yang aneh.
Kita kesampingkan dahulu unsur-unsur magical, dan pakem "yang baik selalu menang dan yang jahat akan kalah". Kedua unsur ini umum ditemui di banyak dongeng khususnya dongeng dan cerita rakyat Indonesia. Namun, setelah aku telaah lebih lanjut, pakem yang baik selalu menang dan yang jahat akan kalah justru hanya bergantung pada sudut pandang saja. Seperti kisah Timun Mas, sudut pandang antara aku yang dewasa dengan diriku ketika kanak-kanak dahulu tentu beda, pada dasarnya Buto Ijo yang notabene dikisahkan sebagai penjahat dan antagonis pada kisah tersebut justru adalah korban dari ketidakamanahan dari tokoh Bu Simin (Ibu Timun Mas). Pada dasarnya kisah Timun Mas memiliki poin bagaimana seseorang dapat menjaga amanah dan tepat janji, ada suatu adegan dimana Bu Simin berjanji akan mengembalikan Timun Mas apabila telah beranjak dewasa ke Buto Ijo selaku pemilik sah Timun Mas tersebut.
Namun, dengan embel-embel "terlanjur menyayangi" Timun Mas, Bu Simin menipu Buto Ijo dengan memperalat anaknya sendiri, yang pada akhirnya Buto Ijo tenggelam di dalam lumpur yang berasal dari terasi ajaib yang dilemparkan oleh Timun Mas, ini menunjukkan di balik kasih sayang seorang ibu terdapat sisi gelap cerita yang perlu dipertanyakan maksud dan tujuannya, yang mana dalam hal ini adalah ketidakamanahan seseorang dalam menepati janjinya dan bagaimana orang tua mengajarkan seorang anak untuk berbohong serta memperalat anaknya sendiri demi keselamatan pribadi.
Mari berandai sebentar, bagaimana jika puncak plot Timun Mas diceritakan bahwa Bu Simin menepati janjinya kepada Buto Ijo? Aku bisa menyimpulkan, dalam hal ini akan terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama bahwa Buto Ijo benar-benar penjahat yang nantinya akan menyantap Timun Mas, atau Buto Ijo hanya mengetes kejujuran dan sikap Bu Simin dengan apa yang telah diamanahkan oleh dirinya, sehingga kisah ini berakhir lebih manis tanpa ada sisi kelam yang patut dipertanyakan.
Pemikiranku ketika masih di usia kanak-kanak tentu tidak bisa seperti sekarang, dahulu jelas aku akan mengatakan bahwa Buto Ijo adalah penjahatnya tanpa berpikir "Apakah ada alasan dibalik tujuan Buto Ijo menyuruh Bu Simin mengembalikan Timun Mas pada usia dewasa?". Sebenarnya, pada usia ini wajar seorang anak berpikir bahwa seorang tokoh dikatakan sebagai orang jahat karena beberapa faktor, yaitu :
1. Visual tokoh yang dibuat menyeramkan.
2. Penggambaran karakter tokoh yang dibuat keras, dan emosional.
3. Adanya pakem tokoh antagonis dibuat tidak menarik.
Nah, stigma-stigma inilah yang merekat pada pemikiran anak kecil yang sederhana. Sehingga tidak ada waktu untuk menganalisis isi dan tokoh dalam cerita tersebut. Sehingga pada akhirnya kisah-kisah seperti inilah yang menimbulkan pembodohan massal pada pola pikir anak kecil yang seharusnya di bentuk sedemikian rupa dengan pikiran yang baik tanpa stigma-stigma negatif.
Hal serupa juga terlihat pada dongeng legendaris terun-temurun, aku yakin orang-orang pada tingkatan usia berapapun akan langsung tahu jika ditanya soal dongeng satu ini, ya apalagi kalau bukan Si Kancil. Dalam kisah ini, Si Kancil digambarkan sebagai tokoh protagonis, yang baik, cerdas, dan lincah, namun ia suka mencuri dan gemar membodohi tokoh lain. Poin inilah yang sangat berkontradiksi dengan penggambaran sifat Si Kancil yang katanya perlu ditiru oleh anak-anak, meskipun hal ini tidak disampaikan secara verbal dalam cerita, namun dengan terus-menerus membacakan kisah Si Kancil pada anak akan membentuk suatu pola pikir "Mencuri dan menipu tidak apa-apa asalkan kamu cerdas, seperti kancil!" pada pemahaman sederhana anak kecil.
Kedua kisah yang aku jabarkan tadi baru pada watak tokoh protagonis yang dianggap "baik" oleh anak kecil dan mungkin orang tua yang tidak bisa memahami esensi dari dongeng yang dikisahkan. Ada lebih banyak dongeng dengan plot cerita yang kelam, tokoh yang tak beradab, dan nilai-nilai yang patut dipertanyakan ulang dicekoki kepada anak-anak kecil. Beberapa dongeng akan kuanggap kurang mendidik karena terlalu "mencengankan" untuk diceritakan kepada anak-anak usia dini. Seperti kisah Sangkuriang, dengan cerita yang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana alur, plot, dan adegan-adegan yang digambarkan, benar-benar tervalidasi tidak untuk konsumsi anak-anak di bawah 18 tahun, kisah Jaka Tarub dan 7 Bidadari, sama berbahanya apabila diceritakan pada anak di bawah umur, kisah Malin Kundang, meskipun feedback yang diinginkan adalah "Jangan durhaka kepada Orang Tua", namun mengisahkan orang tua yang ringan mulut menyumpah serapahi anak semata wayang, menurutku akan menimbulkan ketakutan tersendiri bagi seorang anak. Lalu adapula kisah Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir, puncak konflik pada kisah ini cukup mirip dengan Malin Kundang, meskipun dengan permasalahan yang berbeda. Dalam kisah ini justru si Bapak (Toba) yang menyumpah serapahi sang anak (Samosir).
Dongen Malin Kundang dan Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir apabila diceritakan terus-menerus akan menciptakan memori kelam bahwa orang tua adalah sosok yang kejam sehingga tidak menutup kemungkinan dari sebuah dongeng sederhana akan menimbulkan pikiran traumatis tentang sosok orang tua seperti yang digambarkan pada kedua kisah ini.
Ini merupakan gejolak pikiran dan pendapatku, salah satu anak yang masa kecilnya pun dibodohi oleh dongeng-dongeng dan cerita rakyat yang disampul dengan indah, penuh keajaiban, dan terasa baik-baik saja. Namun, aku pun tak bisa mengatakan bahwa dongeng-dongeng yang kudengar dan ku baca memiliki feedback dan nilai yang lebih banyak buruknya daripada baiknya. Tentu ada dongeng-dongeng dan cerita rakyat dengan plot sederhana, serta tidak menimbulkan persepsi ganda, seperti Bawang Putih dan Bawang Merah dan kisah Si Bonong.
Setelah membaca ini, aku harap kita semakin berpikir kritis untuk tidak asal menerima kisah-kisah yang diberikan dan dibacakan kepada kita. Seorang anak yang pikirannya masih naif dan sederhana, akan menganggap sebuah kisah hanya sebuah kisah tanpa mempertimbangkan esensi, makna yang terkandung, dan sudut pandang untuk menganalisis apa yang dibacakan kepadanya. Maka dari itu, penting peran orang dewasa khususnya para orang tua untuk menyaring bacaan yang diberikan kepada anak. Jangan mentang-mentang itu adalah dongeng dan cerita rakyat maka tidak akan terdapat unsur keanehan dalam cerita yang dapat memberikan makna tersendiri bagi anak yang menyerap ilmunya. Ingat, pemikiran anak kecil memang sederhana namun ia cepat dalam belajar jadi berhati-hatilah sebelum menuangkan sesuatu pada anak karena pada dasarnya hal itu akan selalu diingat apabila diberikan terus-menerus dan konsisten.
Tulisan ini hanya sebuah opini, lantas bagaimana opini kalian? Bagaimana pandangan kalian terhadap dongeng dan cerita rakyat yang selama ini kalian baca? Pro? atau justru kontra dengan opini ku! Berikan feedback mu pada kolom komentar ya!
Komentar
Posting Komentar