Catatan Etnografis - Hidden Gem dari Madura, Kamal Sebagai Pusat Maritim di Kabupaten Bangkalan? Apakah Bisa?
Kecamatan Kamal Bisa Menjadi Pusat Maritim Bangkalan?
Di wilayah Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, terdapat dua tempat yang merupakan sentra nelayan. Dua wilayah tersebut dikenal dengan Desa Tajungan yang jaraknya sekitar 4 km dari Pelabuhan Kamal dan menghadap ke wilayah Kabupaten Gresik. Sedangkan tempat kedua adalah Kampung Kejawan yang jaraknya hanya 100 m dari Pelabuhan Kamal dan menghadap ke wilayah Kota Surabaya.
Desa Tajungan dan Kampung Kejawan merupakan dua tempat yang menjadi jujukan Saya untuk mencari tahu, mengamati, dan melihat bagaimana kehidupan masyarakat nelayan yang ada di sana, dan secara mengejutkan dua tempat yang sebenarnya cukup berdekatan ini memiliki perbedaan budaya melaut, kebiasaan, serta perilaku yang cukup mencolok, padahal jika diestimasikan keduanya hanya berjarak 4 km dengan waktu tempuh jika bolak balik antara Desa Tajungan dan Kampung Kejawan kurang lebih hanya 20 menit saja, dan masih berada di wilayah yang sama.
Adanya perbedaan yang cukup kentara mendorong Saya untuk menjadikan kedua tempat tersebut sebagai objek pengamatan dan penelitian pada catatan etnografis ini, yang mana dari keduanya akan Saya jadikan suatu perbandingan dan bukti bahwa meskipun dua atau lebih tempat yang masih berada di satu wilayah yang sama belum tentu memiliki budaya dan kebiasaan yang sama pula. Adapun selain alasan tersebut, Saya mengambil lokasi itu karena jarak dari kampus cukup dekat dan memudahkan mobilitas yang ada, Saya menilai bahwa keduanya memiliki prospek yang cukup tinggi pada bidang kelautan namun masih kalah eksis dan kurang mendapatkan atensi dari masyarakat jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Madura seperti Sumenep.
Adapun perbedaan di antara kedua wilayah itu datang dari hasil atau komoditas yang didapat, pemberdayaan dan hal yang ditonjolkan oleh masyarakatnya, kebersihan wilayah baik di darat maupun di laut, perilaku warga setempat, budaya dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika melaut, akses wilayah, dan penataan ruang. Namun, sebelum membahas seputar perbedaan-perbedaan tersebut Saya akan menjabarkan tentang kehidupan nelayan Madura secara umum terlebih dahulu. Selama pengamatan di kedua tempat tersebut ada perasaan takjub, dan semakin membuka pandangan Saya dengan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Dari pengamatan dan penelitian ini Saya banyak menemukan dan belajar hal baru. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar, dan mendengar cerita dari mereka semakin memperkaya khazanah pengalaman dan cara berpikir Saya.
Secara garis besar, selain dikenal sebagai seorang pedagang dan perantau, masyarakat Madura juga dikenal sebagai nelayan. Seperti yang kita tahu bahwa Pulau Madura yang terdiri dari 4 wilayah Kabupaten dengan urutan dari ujung paling barat ke ujung paling timur adalah Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep dikelilingi oleh laut yang kita kenal dengan sebutan Selat Madura. Pulau Madura adalah wilayah pesisir dengan iklim kering dan suhu yang hangat, sehingga memiliki sumber daya laut yang cukup melimpah. Karena kondisi inilah banyak masyarakatnya yang menjadi nelayan, hingga sampai saat ini masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat nelayan.
Namun meski sama-sama nelayan, kerap ada perbedaan komoditas atau tangkapan utama pada satu tempat dengan tempat lainnya. Ada yang komoditas utamanya adalah ikan-ikanan, ada yang udang, kepiting, dan kerang, ada yang teripang dan rumput laut, dan masih banyak lagi. Namun meski begitu tidak menutup kemungkinan bahwa dalam satu tempat atau wilayah menghasilkan komoditas utama yang tidak hanya satu jenis saja. Adanya perbedaan komoditas tangkapan bisa dikarenakan terdapat perbedaan gelombang atau ombak, dan dataran dari satu tempat dengan tempat lainnya. Meski begitu, sebuah peribahasa yang berbunyi “Abhântal Omba’ Asapo’ Angèn” yang memiliki arti “Berbantal Ombak Berselimut Angin” telah menjadi motto bagi seluruh masyarakat nelayan Madura, motto inilah yang pada dasarnya menyatukan segala perbedaan baik budaya maupun kebiasaan melaut mereka bahwan pada hakikatnya laut, ombak, dan angin merupakan sahabat karib dan mereka percaya bahwa tekad mereka mencari nafkah dari sana tidak dapat dikalahkan oleh badai apapun.
Saya sudah menjelaskan bagaimana masyarakat nelayan Madura dikenal secara umum oleh masyarakat luas, pada pembahasan selanjutnya, Saya akan memulai untuk menjelaskan dan menceritakan bagaimana masyarakat nelayan yang Kami temui dan amati di wilayah Desa Tajungan dan Kampung Kejawan sebagai objek penelitian etnografis ini.
Desa Tajungan, terletak 4 km dari Pelabuhan Kamal, cukup jauh karena untuk sampai ke sana harus melewati beberapa Desa, diantaranya adalah Desa Kamal, Desa Banyuajuh, dan Desa Gili Barat. Meski begitu, jika Kita melakukan perjalanan dari arah pelabuhan menuju Desa Tajungan kurang lebih hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit dengan sepeda motor pun, sama ketika berangkat dari Universitas Trunojoyo Madura. Akan tetapi, Saya yang masih cukup asing dengan keadaan wilayah di sana sempat mengalami beberapa kendala dan merasa bahwa perjalanan menuju Desa tersebut terasa sangat lama saat pertama kali melakukan survei wilayah dan meninjau lokasi tersebut. Saya disambut dengan jalanan yang sudah rusak parah dan perlu perbaikan segera, jalan menuju Desa tidak diaspal dengan baik dan rasa-rasanya tidak diaspal secara permanen. Jujur saja, Kami merasa bahwa akses menuju Desa Tajungan agak sulit karena jalanan yang rusak parah. Kerusakan tersebut terjadi kurang lebih sekitar 300 m dari jalan utama di sebuah pertigaan setelah Kantor Kecamatan Kamal sampai di dekat tambak garam. Namun setelahnya hingga sampai di gerbang utama Desa Tajungan jalanan sudah lumayan mulus dan Saya bisa berkendara dengan lancar.
Hal berikutnya yang Saya lihat setelah disambut dengan jalanan rusak dan lahan tambak garam adalah tata ruang rumah-rumah warga yang terbilang cukup rapi, meski tidak bisa dibilang ideal namun daerah tersebut masih bisa dinilai layak huni. Saya yang sempat berkeliling sebentar sebelum memasuki sesi eksekusi bersama dengan nelayan di sana, mengamati bahwa jalanan utama di Desa tersebut cukup lebar dan lengang, dan pada bagian tempat padat penduduk meskipun hanya ada jalan-jalan setapak yang kecil, sepeda motor masih bisa masuk, dan orang-orang tidak terlalu kesulitan melewatinya.
Lalu pada hal kebersihan, selama pengamatan berlangsung, Saya menilai bahwa masyarakat di sana cukup menjaga kebersihan, hal ini terbukti dengan tidak adanya sampah-sampah rumah tangga yang tergeletak begitu saja di sepanjang jalan dan sekitar rumah-rumah warga, kondisi kebersihan di darat cukup ideal namun masih perlu ditingkatkan. Meski kondisi di darat cukup bersih, akan tetapi di wilayah laut nya masih banyak limbah dan sampah-sampah yang entah datang dari mana. Pada saat Saya sampai, air laut sedang surut sehingga sampah-sampah yang awalnya mengambang bebas di laut turun ke dasar dan bisa terlihat dengan jelas. Hal ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan di kepala Saya, mengapa di wilayah daratan cukup bersih dan minim sampah yang berserakan namun di laut malah sebaliknya? Apakah sampah tersebut terbawa arus atau jangan-jangan warga sekitar sengaja membuang sampahnya ke laut?
Meski begitu hal terkait akses, tata ruang rumah warga, dan kebersihan di Tajungan justru cukup berbanding terbalik dengan keadaan yang kami amati di wilayah Kampung Kejawan. Secara akses, Kampung Kejawan bisa dibilang jauh lebih baik. Letaknya yang cukup strategis karena berdekatan dengan Pelabuhan Kamal (kurang lebih sekitar 100 m) membuatnya lebih mudah untuk ditemukan, jalan-jalan menuju ke sana pun sudah beraspal jauh berbeda dari Desa Tajungan sehingga memudahkan akses perjalanan Saya saat itu. Namun berdasarkan hasil pengamatan, Kampung Kejawan hanya unggul pada akses dan jalan yang bagus, hal ini sangat jauh berbanding terbalik jika kita melihat kondisi lingkungan dan tata letak perumahan di sana.
Sungguh sangat disayangkan, jika di Desa Tajungan kami disambut dengan jalanan yang rusak parah, maka di Kampung Kejawan Kami disambut dengan tumpukan sampah dengan bau busuk yang luar biasa menyengat, sepanjang jalan yang kami lewati di kanan kiri kalau tidak sampah rumah tangga ya sampah bangunan atau rongsokan. Tidak jauh beda dengan di darat, di wilayah laut justru lebih parah. Jika saat itu Saya nekat turun ke pesisir, mungkin Kami akan menemukan berbagai jenis sampah di sana. Keadaan kebersihan di laut sekitar Kampung Kejawan justru lebih memprihatinkan daripada di wilayah Desa Tajungan. Pun begitu dengan tata ruang perumahan di sana, yang menurut pengamatan Saya jauh dari kata ideal. Sekarang, silahkan di bayangkan bagaimana jika seandainya Anda hidup di bangunan yang sempit, dengan lingkungan sekitar yang dipenuhi sampah, dan berada di wilayah padat penduduk, dengan suhu udara yang tinggi dan kering. Jujur saja, Saya hanya bisa bertahan sebentar di sana untuk melakukan pengamatan.
Dari segi akses, kebersihan lingkungan sekitar, dan tata ruang rumah penduduk saja Kami telah menemukan perbedaan yang sangat mencolok padahal lokasi keduanya hanya dipisahkan jarak 4 km satu sama lain dan masih berada di satu Kecamatan yang sama. Bagaimana dengan hal lainnya?
Sekarang kita akan kembali fokus pada pembahasan soal kehidupan nelayan di dua tempat tersebut. Kedua tempat tersebut baik Desa Tajungan dan Kampung Kejawan sama-sama disatukan dengan wilayah laut yang sama namun dengan kondisi dasar laut yang berbeda. Pada saat kunjungan Kami di kedua tempat tersebut kami mendapati kondisi laut yang sedang surut sehingga menampakkan bagian dasar lautnya. Di wilayah Desa Tajungan dasar laut di sana mayoritas adalah lumpur tanpa karang, hal ini jauh berbeda di sepanjang area Kamal sampai Kampung Kejawan, dasar laut justru dipenuhi oleh batu-batu karang dan pasir, yang apabila surut pasir-pasir tersebut akan ikut mengering.
Karena perbedaan kondisi laut inilah menyebabkan adanya perbedaan pada komoditas atau hasil tangkapan utama nelayan di kedua tempat tersebut. Komoditas atau hasil laut utama nelayan di Desa Tajungan merupakan berbagai jenis udang, dari mulai udang kecil, sampai udah besar, kerang-kerangan dan kepiting. Namun ada kalanya juga mereka mendapatkan ikan, salah satu ikan yang sering tidak sengaja mereka dapatkan adalah ikan belanak atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Blue Spot-Mullet Fish. Berdasarkan pengakuan salah satu nelayan Tajungan yang Kami wawancarai saat itu, udang-udangan merupakan komoditas utama mereka melihat dari kondisi laut yang lebih dangkal dan berlumpur. Perlu diketahui pada musim-musim penghujan sejak bulan Oktober sampai Desember merupakan puncak panen udang mereka di laut. Di mana biasanya pada bulan-bulan tersebut nelayan di sana bisa mendapatkan lebih dari 10 kg udang, yang harga perkilonya mulai dari Rp. 22.000 tergantung ukuran.
Masyarakat nelayan di Desa Tajungan memiliki waktu melaut yang lebih fleksibel dan disesuaikan dengan keinginan pribadi serta tidak terikat waktu. Seperti yang kita tahu ada teori umum yang mengatakan bahwa nelayan pergi untuk melaut pada malam hari dan akan kembali pada pagi atau siang hari dan teori ini tidak berlaku bagi masyarakat Tajungan.
Bedasarkan pada wawancara Kami dengan salah satu nelayan di sana, bahwasannya kegiatan para nelayan di Desa Tajungan tidak serta merta hanya dihabiskan di laut selama seharian. Namun, cenderung hanya sebentar dan paling lama selama setengah hari saja. Kebiasaan waktu melaut yang fleksibel ini disebabkan karena di dalam poin ini kami menemukan keunikan pada bagaimana cara masyarakat nelayan Desa Tajungan menangkap hasil laut. Yaitu, hanya dengan memasang jebakan sejenis jaring yang dirangkai sedemikian rupa dan ditandai dengan kayu-kayu pancang yang ditancapkan ke laut. Dari jebakan-jebakan inilah nelayan di sana hanya akan memasang dan menunggu kurang lebih selama setengah hari untuk kembali mengecek hasil tangkapan. Maka dapat disimpulkan apabila nelayan memasang jebakan pada malam hari, maka nelayan akan mengecek dan mengambil hasil tangkapan pada pagi akhir. Sebaliknya, apabila nelayan memasang jebakan pada pagi hari, maka nelayan akan mengecek dan mengambil hasil tangkapan pada siang atau sore hari. Dan kebanyakan mereka melakukan pemasangan jebakan pada pagi hari, dan akan diambil serentak pada sore hari sekitar pukul 16.00-17.00 WIB.
Dari kebiasaan melaut ini, Kami menilai bahwa nelayan di Desa Tajungan menggunakan teknologi yang lebih modern, sudah tidak ada lagi istilah melaut malam kembali pagi, mereka bisa melaut kapan saja dan kembali kapan saja. Tidak perlu menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk melempar jaring dan menunggu di tengah laut. Satu lagi fakta unik yang Kami temukan selama pengamatan dan wawancara adalah, alat-alat yang mereka gunakan tersebut didapatkan melalui online marketplace, jadi secara khusus di Tajungan tidak ada pengrajin alat penangkap ikan yang lebih canggih. Ada pengrajin namun hanya alat-alat menangkap ikan sederhana seperti jaring.
Berbeda dengan hasil komoditas laut di Kampung Kejawan yang merupakan pantai dengan batu-batu karang dan pasir serta laut yang agak lebih dalam daripada di wilayah Tajungan, menghasilkan tangkapan berupa beragam jenis ikan-ikanan seperti teri, Ikan merah, Ikan dorang, dan tongkol. Di Kejawan rata-rata nelayan di sana masih menggunakan cara melaut konvensional, seperti melaut pada malam hari dan kembali ke darat pada pagi atau siang hari, serta penggunaan alat-alat biasa seperti jaring atau alat pancing. Maka dari itu hasil yang lebih banyak di dapat pun berupa jenis ikan-ikanan karena selain alat dan waktu melautnya, masyarakat Kejawan lebih sering mencari ikan sampai di tengah laut, berbeda dengan di Tajungan yang hanya di mencari kira kira sampai jarak 50-100 m dari pesisir pantai.
Meski kedua tempat tersebut memiliki kebiasaan melaut yang berbeda, fakta bahwa mereka masih menggunakan perahu-perahu mesin sederhana yang membawa membawa mereka selama melaut tidak bisa dipungkiri, perahu-perahu tersebut biasa disebut oleh warga sekitar dengan istilah “Perahu Otok”, karena suara yang dihasilkan dari mesin perahu berbunyi “tok ko tok ko tok...”. Maka dari itu, jika dikatakan bahwa nelayan di kedua tempat tersebut sudah menggunakan teknologi yang modern, maka tidak juga. Saya menyebut kegiatan melaut masyarakat nelayan baik di Desa Tajungan maupun di Kampung Kejawan masih semi modern.
Selama pengamatan, khususnya di wilayah Desa Tajungan ada satu hal yang membuat Kami cukup takjub dan salut kepada masyarakat nelayan di sana. Menurut pengakuan narasumber Saya, baik dari Nelayan maupun Kepala Desa Telang, selama ini diantara mereka tidak pernah terdapat konflik, baik konflik antara masyarakat dengan pemerintahan desa, maupun konflik antara sesama nelayan. “Laut ini kan milik Kita semua, semua memiliki hak yang sama atas hasil laut yang ada.” Tutur narasumber Saya, hal ini ia maksudkan bahwa antar masyarakat nelayan di Tajungan tidak pernah terjadi perebutan hasil laut atau salah satu merasa wilayah melautnya diambil oleh nelayan lain. Semua bebas mengambil hasil laut di wilayah perairan sekitar Tajungan, bahkan ada kalanya nelayan dari wilayah Kecamatan Socah dan nelayan dari Kampung Kejawan melaut di wilayah Tajungan juga.
Semuanya berangkat dari kesadaran diri masing-masing nelayan. Meskipun di bebaskan untuk melaut dan mengambil hasil tangkapan di mana serta kapan saja, mereka seolah menerapkan aturan tidak tertulis untuk tidak memasang jebakan terlalu berdekatan satu sama lain, minimal jarak antara satu jebakan dengan jebakan lain adalah 3-4 m. Jika sudah begitu, hal terakhir yang bisa mereka lakukan adalah istiqomah dan berharap rezeki dari Tuhan yang Maha Esa. Tidak ada iri dengki, atau merasa wilayahnya diambil, karena mereka melaut di laut yang sama dengan tangkapan yang sama, yang menjadi pembeda hanya rezeki yang didapat saja, jika sudah begitu mereka hanya bisa pasrah dan menerima. “Di antara Kami tidak ada rasa iri dengki atau merasa tersaingi karena hasil laut yang didapat jumlahnya berbeda-beda. Itu semua kan tergantung dari rezeki Kami masing-masing, wong Kami melaut di tempat yang sama, dengan kondisi dan metode yang sama juga.”. Prinsip dan kebiasaan inilah yang membuat Saya merasa kagum dengan masyarakat nelayan di Desa Tajungan, tidak ada rasa iri dengki dan persaingan kotor sehingga masyarakatnya hidup damai dan saling berdampingan.
Nah, sekarang Saya akan mulai memasuki pada pembahasan seputar budaya dari kedua kampung nelayan ini. Saya menemukan hal yang cukup unik dari keseharian mereka. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa kedua tempat ini dipisahkan dengan jarak 4 km, Desa Tajungan memiliki akses yang lebih dekat ke wilayah Kabupaten Gresik sedangkan Kampung Kejawan memiliki akses yang lebih dekat ke wilayah Kota Surabaya. Adanya perbedaan wilayah ini ternyata sedikit banyak memengaruhi kebudayaan yang ada di sana.
Baik Desa Tajungan maupun Kampung Kejawan merupakan orang-orang asli Madura, namun yang satu Maduranya masih kental dan yang satu Maduranya sudah mulai pudar. Kok bisa? Inilah bagian teruniknya. Pada saat melakukan survei lokasi untuk pertama kalinya, Saya berpikir bahwa Desa Tajungan sama seperti tempat lain yang ada di Kecamatan Kamal, di mana Desa tersebut masih kental dengan kebudayaan Madura, sehingga Saya menyiapkan diri untuk hanya berbicara dengan bahasa Madura dan Bahasa Indonesia, kalau-kalau masyarakat sekitar kurang paham dengan bahasa keseharian Saya yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Namun, Saya cukup kaget manakala pada hari kedua, tepatnya di hari puncak eskekusi penelitian ini Saya mendengar pengakuan dari salah satu nelayan yang menjadi narasumber Saya, bahwa mereka tidak bisa menggunakan bahasa Madura. Dalam kesehariannya mereka murni menggunakan bahasa Jawa atau Indonesia, meski bahasa Jawa yang digunakan adalah Jawa kasar namun logat Jawa mereka terdengar fasih. Dan lucunya, bahasa Madura yang seharusnya menjadi bahasa ibu di sini, justru menjadi bahasa sampingan yang jarang digunakan, bahkan ketika di awal Saya menanyakan suatu hal dengan menggunakan bahasa Madura mereka justru kebingungan dan bertanya “Artinya apa?”.
Adanya hal unik ini juga diakui oleh Kepala Desa Tajungan sendiri, selain tidak bisa berbahasa Madura, manakala mereka akan pergi ke luar dari wilayah Desa (wilayah Desa Gili Barat, Kamal, Telang, dan wilayah lain di luar desa mereka), mereka selalu menyebut “Saya mau ke Madura”, padahal secara wilayah antara Desa Tajungan dan Desa Gili Barat masih berada di jalur dan akses jalan yang sama, antara Desa Tajungan dengan tempat lain di luar gerbang utama Desa masih berada di satu Kecamatan dan Kabupaten yang sama. Jika mengetahui fakta ini, mungkin Kita akan bingung dan merasa ini adalah hal yang lucu, namun begitulah realita yang ada.
Kita mengetahui bahwa masyarakat Madura adalah orang yang keras dan “kasar”, namun masyarakat di Desa Tajungan yang notabene adalah orang Madura justru memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan cap tersebut. Jujur saja Saya merasa disambut dengan baik di sana, mereka bertutur kata lemah lembut, lebih sabar, dan lebih supel. Adanya budaya seperti ini ternyata datang karena adanya pengaruh dari Kabupaten Gresik karena jarak antara kedua tempat tersebut cukup dekat. Pengaruh budaya Jawa sudah sangat kental di Desa Tajungan sehingga menimbulkan fenomena asimilasi yang menghilangkan budaya asli setempat karena digantikan dengan budaya baru. Maka tidak heran di Desa Tajungan budaya Jawa lebih pekat dan kental, serta budaya Madura lebih pudar. Namun fakta mereka adalah orang Madura dan memiliki prinsip sama seperti orang Madura pada umumnya tidak bisa dihilangkan.
Jika budaya Madura di Desa Tajungan sudah memudar, namun berbeda halnya dengan di Kampung Kejawan yang masih menjunjung tinggi budaya Madura yang ada. Secara bahasa mereka murni menggunakan bahasa Madura dan sedikit berbahasa Indonesia, serta menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sampingan yang jarang digunakan kecuali pada orang-orang tertentu. Watak dan perangai yang keras masih nampak dengan jelas pada karakter masyarakat di Kampung Kejawan. Meskipun merupakan area perkampungan masyarakat di sana cenderung lebih individualis, dan terkesan acuh tak acuh, kasarnya apabila dibandingkan dengan masyarakat nelayan di Desa Tajungan, masyarakat Kampung Kejawan lebih cuek dan kurang ramah. Saya tidak menilai secara subjektif atau mengangungkan salah satu tempat namun beginilah hasil yang Saya dapatkan dari pengamatan di Tajungan maupun Kejawan.
Adanya budaya yang seperti itu dari masyarakat di Kampung Kejawan juga terdapat sumbangsih dari Surabaya. Memilki akses yang sangat dekat dengan Surabaya pada akhirnya mempengaruhi kebudayaan yang ada di Kampung Kejawan. Namun, pada kasus ini Saya mengamati bahwa hanya ada fenomena akulturasi di antara keduanya. Yang artinya Masyarakat Kampung Kejawan mengadaptasi nilai dan budaya dari Surabaya namun tidak menghilangkan dan masih menjunjung tinggi budaya asli mereka yaitu budaya Madura.
Dari budaya yang berbeda pada dua wilayah tersebut ternyata juga berpengaruh pada pemberdayaan masyarakatnya. Meski sama-sama kampung nelayan, keduanya memiliki perbedaan. Di Desa Tajungan, melaut merupakan mata pencaharian utama masyarakat di sana, berdasarkan penuturan dari Kepala Desa Tajungan meski melaut adalah pekerjaan utama, namun tidak memungkiri terdapat pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh nelayan di sana. Mayoritas pekerjaan sampingan yang dilakukan adalah pemberdayaan masyarakat setempat dibidang pariwisata dan kuliner, saat ini di Desa Tajungan terdapat pengembangan area wisata di atas lahan mangrove, dengan adanya hal ini pemerintah setempat memberdayakan masyarakat untuk mengenalkan kuliner khas di sana yaitu kerupuk udang dan sewel (makanan yang terbuat dari adonan kerupuk dengan kanji dan hasil laut khususnya udang yang di goreng/di kukus dan di cocol dengan petis asin) yang sudah di ekspor hingga ke luar kota, dan sampai saat ini ekspor terjauh dari produk hasil pemberdayaan masyarakat nelayan di Tajungan adalah DKI Jakarta.
Jika di Desa Tajungan mata pencaharian utama adalah melaut dan mengolah hasil laut serta pariwisata sebagai pekerjaan sampingan, berbeda halnya dengan di Kampung Kejawan. Meskipun ia dijuluki sebagai kampung nelayan namun melaut bukanlah pekerjaan utama mereka, justru berdagang adalah pekerjaan utamanya. Jika Anda mengunjungi Kampung Kejawan, Anda akan melihat bahwa kegiatan melaut di sana agak sepi daripada di Desa Tajungan.
Karena hal itulah, masyarakat yang memilih untuk berdagang lebih mendominasi, di sana terdapat sebuah pasar yang datang dari warga yang berjualan di halaman rumahnya, sepanjang jalan ketika Saya memasuki gerbang utama Kampung Kejawan akan langsung disuguhi oleh pemandangan pasar. Pasar tersebut biasa dikenal dengan nama Pasar Kejawan. Selain di Pasar Kejawan mereka juga berdagang di Pasar Kamal, dan mayoritas dagangan yang dijual di sana adalah hasil laut. Cukup aneh memang namun beginilah fakta yang terjadi di lapangan.
Berada di satu wilayah yang sama, berada di satu kecamatan dan kabupaten yang sama, dan bekerja pada bidang yang sama, tidak serta merta memiliki kebiasaan dan budaya yang sama pula. Hal ini terjadi pada dua tempat yang menjadi objek pengamatan Saya untuk menyelesaikan catatan etnografis ini. Desa Tajungan dan Kampung Kejawan, dua tempat yang hanya dipisahkan oleh jarak sepanjang 4 km, memiliki kebiasaan dan budaya yang saling berbanding terbalik.
Dengan pengamatan ini, selain Saya dapat mengetahui bagaimana kehidupan nelayan Madura, pandangan Saya terhadap perbedaan dan kebudayaan semakin luas, bahwa Indonesia merupakan negara yang luar biasa kaya, bahkan dua tempat yang berdekatan sekalipun terdapat perbedaan di dalamnya. Namun, meski begitu baik nelayan di Desa Tajungan maupun di Kampung Kejawan sama-sama di satukan dengan fakta bahwa mereka adalah orang Madura, serta motto “Abhântal Omba’ Asapo’ Angèn”, mau bagaimanapun perbedaan yang ada, kenyaataan bahwa laut dan angin sudah menjadi sahabat karib para nelayan Madura tidak bisa dipungkiri bahwa mereka adalah satu.
Selama pengamatan di kedua tempat tersebut Saya merasa takjub, dan semakin membuka pandangan Saya dengan fenomena-fenomena yang terjadi masyarakat. Dari pengamatan dan penelitian ini Saya banyak menemukan dan belajar hal baru. Berinteraksi dengan masyarakat sekitar, mendengar cerita dari mereka semakin memperkaya khazanah pengalaman dan cara berpikir Saya.
Mengangkat masyarakat nelayan di Desa Tajungan dan Kampung Kejawan sebagai objek pada catatan etnografis ini, Saya mengharapkan kedua tempat tersebut bisa mendapatkan atensi dan perhatian lebih dari masyarakat luas, bahwa mereka juga memiliki potensi yang sama besarnya pada sektor kelautan dan maritim di Indonesia khususnya di Pulau Madura. Perlu adanya kerja sama dari berbagai pihak supaya tempat yang tidak terlalu digubris keberadaannya bisa terlihat. Dan Saya, dengan langkah sederhana melalui penelitian ini mencoba untuk mengenalkan Desa Tajungan dan Kampung Kejawan sebagai sentra nelayan yang memiliki potensi dan layak untuk dikembangkan dan diperhatikan.
Komentar
Posting Komentar