LA LETTRE D'AMOUR (CERPEN)
La Lettre d'Amour
Hira Imandari
Untuk yang tersayang, Marjolaine.
Aku masih mengingat perjumpaan pertama kita kala pesta kedewasaan yang kau lalui hari itu di istana. Kau berjalan sendirian di taman Kerajaan di bawah sinar rembulan yang berkilau di penghujung musim gugur yang dingin tanpa sebuah mantel.
Aku memperhatikanmu, memandangi berbagai bunga yang tertanam di taman itu tanpa mengidahkan rasa dingin yang munusuk kulit dari balik gaun indahmu, lalu kau duduk di bangku kayu tua di tengah-tengah taman itu sambil memandangi cerahnya rembulan. Angin sepoi-sepoi yang berhembus kala itu, menerpa rambut bergelombang indah yang kau biarkan tergerai bebas dan hanya dihiasi jepit permata berkilau, wajah cantikmu makin nampak jelas terlihat.
Marjolaine tersayang, kau mungkin tak sadar. Kala itu, aku memperhatikanmu cukup lama di tengah-tengah inspeksi keamanan istana. Dirimu yang kulihat saat itu, berhasil membuat hati yang sudah lama beku ini berdesir hangat. Awalnya, aku tak mengenalmu, yang ku tahu kau hanyalah seorang putri bangsawan Kerajaan, namun entah ada rasa berbeda yang menjalari hati ku ini.
Pertemuan tak sengaja di pesta kedewasaan itu, hanyalah sebagian kecil dari rasa indah yang terbentuk di lubuk hatiku ini. Hingga pertemuan-pertemuan berikutnya yang membuat kita saling mengenal.
Marjolaine, ingatkah dirimu ketika kita berjalan berdua di tengah pasar rakyat dulu? Kita menyamar dan membaur sebagai seorang rakyat biasa. Kala itu, aku melihat sisi lain dari dirimu, di hari-hari biasa yang ku tahu Marjolaine adalah gadis bangsawan anggun namun di hari itu, aku melihat bahwa dirimu hanyalah gadis polos yang penasaran dengan luasnya dunia luar. Senyuman sumringah yang kau pancarkan dari balik wajah cantikmu itu masih segar dalam ingatanku.
Memori-memori indah yang kita ukir bersama menjadi hal yang amat ku syukuri. Bertahun-tahun aku hanya berdiam di medan perang bagaikan hantu yang haus akan nyawa seseorang namun, ketika ku kembali aku berjumpa dengan dirimu, Marjolaine ku yang polos dan cantik. Kau mampu mengubahku menjadi manusia, kau memberitahuku bahwa kehidupan adalah hal yang harus di syukuri, kau membuatku memiliki sesuatu yang patut aku perjuangkan dan lindungi di sisa hidupku ini.
Marjolaine tersayang, sebelum bertemu denganmu aku tidak pernah takut akan kematian, justru aku lelah karena harus selalu menghunuskan pedang ini kepada seseorang, namun kini sesungguhnya aku merasa takut. Aku tidak tahu kapan aku mati dan meninggalkanmu, medan perang mengajarkanku bahwa nyawa seseorang menjadi mainan dan bahan lelucon setiap harinya. Di malam hari, perang memang berhenti namun orang yang terbunuh tidak berhenti. Aku takut, jika sewaktu-waktu mati tanpa berpamitan kepadamu, aku takut ketika kembali aku hanya akan meninggalkan nama dan sebuah upacara kematian.
Perang yang tidak kunjung usai ini membuatku muak, ada kalanya aku membiarkan diriku yang sekarat menolak pengobatan, ada kalanya aku membiarkan tubuh ini terhunus oleh pedang ataupun anak panah yang turun bagaikan hujan, dan ada kalanya pula aku berusaha menyiksa tubuhku ini hanya dengan satu harapan aku bisa meninggalkan dunia ini. Namun, sepertinya Dewa belum mengizinkanku pergi dari sini. Segalanya gagal dan pada akhirnya aku harus kembali di garis terdepan memimpin ribuan pasukan di medan perang yang mengerikan.
Aku memang di takdirkan menjadi mesin penghancur dengan pedang ini. Suara-suara raungan kematian manusia-manusia yang berkorban demi kemenangan yang tak kunjung datang selalu menghantui diriku, saat itu kupikir mati memang pilihan yang terbaik. Namun, apakah engkau tahu? Sejak pertemuan dan perkenalan kita kala itu, mati tak lagi menjadi pilihan terbaikku, kau berhasil melunakkan hati yang sudah membeku ini dengan kenangan-kenangan indah yang kita lalui bersama walaupun hanya sejenak. Kini ada kau, wahai Marjolaine yang menjadi alasan ku untuk bertahan hidup dan segera mengakhiri perang tak berujung ini.
Aku tak ingin menundanya, melalui surat ini aku akan menyatakan perasaan cintaku hanya kepadamu wahai Marjolaine. Ketika perang usai nanti, kita akan melangsungkan upacara pernikahan di depan Dewa, di depan sebuah altar kuil suci yang dihiasi patri kaca yang bersinar diterpa hangatnya mentari musim semi.
Marjolaine ku tersayang, mari kita bangun sebuah keluarga kecil yang hangat. Cintaku, kekasihku, Marjolaine, aku tak ingin ada penyesalan sebelum kematian muncul di depan mataku, maka ku nyatakan perasaan tulus ini, akan ku lamar dirimu secara resmi ketika aku kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan, sebelum itu, ku mohon pakailah cincin yang datang bersama surat ini sebagai tanda ikatan cinta kita yang tulus. Tunggulah aku, Marjolaine. Tunggulah aku sebentar lagi, aku akan kembali.
Yang kau cintai
Theodore de Salazar
Ku baca kembali surat cinta yang datang dari Sir Theodore 6 bulan lalu. Sir Theodore, dia adalah pria yang aku cintai, kami bertemu pada saat pesta kedewasaanku setahun yang lalu di Kerajaan Blanche. Yang ku tahu saat itu, Sir Theodore kembali sebentar ke Kerajaan Blanche dari medan perang di kawasan utara.
Sir Theodore bukan, Grand Duke Theodore de Salazar adalah Jenderal muda yang memimpin pasukan agung Kerajaan Blanche, usianya masih 23 tahun namun reputasinya di Kerajaan ini sudah amat termahsyur, kekayaan berlimpah, kekuasaan akan takhta Grand Duchy, dan paras yang sempurna, namun di balik itu semua ada sebuah konsekuensi yang harus ia terima, dia bukan termahsyur karena kegagahannya di medan perang namun termahsyur karena dijuluki sebagai mesin penghancur haus darah.
Pertemuanku dengannya yang diawali dari hubungan persahabatan kini menjadi hubungan yang saling mencintai, bohong kalau aku tidak tertarik dengan wajah tampan ataupun kekuasaan yang dimilikinya namun katahuilah, aku mencintai dia semata-mata memang ketulusan dari lubuk hatiku, orang-orang sekitar yang terlalu mengekangku karena status diriku sebagai putri Marquess Veronique sang penasihat tinggi Kerajaan Blanche membuatku jengah dan muak, pergerakanku dibatasi, aku memang memiliki segalanya, tapi semua itu hanya sampul belaka, sesungguhnya aku hanyalah gadis, bukan namun tahanan di rumah mewah.
Ketika bersamanya, aku merasakan kebebasan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Hari-hariku semakin semarak setelah pertemuan pertama kami di malam pertengahan musim gugur yang sejuk. Kala bersamanya, aku dapat melihat luasnya dunia yang salama ini hanya bisa ku bayangkan lewat buku-buku yang ku baca.
Lama bersama-sama, kami merasakan mulai timbul rasa cinta. Namun, pernyataan saling mencintai itu gagal terucap secara langsung, mendadak Sir Theodore harus kambali ke medan perang di utara. Kencan pertama secara resmi yang akan kami rencanakan gagal di hari itu. Kami tak sempat berpamitan karena kondisi sudah terlalu mendesak, sehingga dia hanya mengucapkan selamat tinggal lewat sepucuk surat singkat, dan itulah surat pertama untukku darinya.
Sebulan setelah keberangkatan Sir Theodore yang mendadak itu, datanglah surat pertama darinya yang ia tulis di medan perang, surat itu adalah surat pernyataan cintanya, dia menggoreskan pena bulunya pada secarik kertas dengan kata-kata yang teramat indah dan romantis bersama sebuah cincin platina yang bertahtakan berlian mungil datang dengan surat itu menyambut pagi indah pertamaku di kediaman Veronique.
Sembari membaca surat itu, aku membayangkan kehidupan bahagia dan hangat yang ia janjikan. Dia akan kembali dengan membawa kemenangan dari perang yang telah berlarut-larut, lalu melamarku secara resmi dan menikahiku di depan para Dewa di sebuah altar kuil suci. Memiliki anak dengannya dan menua bersama, betapa indahnya imajinasiku kala itu.
Namun kini, sudah 6 bulan berlalu sejak datang surat pertama darinya itu. Puluhan surat balasan sudah ku kirim kepadanya, namun satupun surat darinya tak kunjung datang kepadaku. Aku amat merindukannya, Theodore kapan kau akan kembali?
Hari-hari berlalu sambil kujalani dengan sejuta kerinduan yang begitu membuncah kepada Sir Theodore, surat darinya pun tetap tak kunjung datang kepadaku, hal yang kubisa hanyalah terus-menurus mengiriminya surat dan berdoa kepada Dewa di kuil suci untuk keselamatannya. Kini hanya satu harapanku, yaitu dia bisa kembali dengan selamat dan perang segera usai.
Hingga satu tahunpun berlalu sejak keberangkatannya yang mendadak ke wilayah utara. Di tahun ini pula, tepat di penghujung musim dingin aku mendengar kabar bahwa perang di utara telah berakhir, Kerajaan Blanche mendapatkan kemenangan setelah lebih dari 50 tahun berperang tanpa henti. Suara riuh para rakyat menggema di setiap sudut Kerajaan Blanche.
Namun, tepat seminggu sebelum pesta kemenangan diadakan aku mendapatkan sebuah surat. Ya.. Itu surat darinya, yang ku tunggu selama setahun penuh dengan segala kerinduan yang membuncah.
Seorang pengantar surat yang sarat ketakutan dan kesedihan datang kepadaku dengan meggunakan pakaian serba hitam, dia memberiku 2 pucuk surat. Kepalaku di penuhi tanda tanya, dengan nada rendah pengantar surat itu berkata kepadaku, “Saya minta maaf, Lady!”. Aku tidak mengerti maksudnya, dia segera pergi meninggalkan kediaman Veronique sebelum sempat aku bertanya.
Aku tak mengidahkan pengantar surat aneh itu, masih dengan perasaan bahagia aku kembali ke kamar dan mulai membaca surat darinya.
Untuk kekasihku tercinta, Marjolaine.
Puluhan surat darimu sudah ku terima, aku senang menerima surat-surat cinta darimu. Surat-surat itu mengobati rasa rinduku kepadamu. Maafkan aku, dari puluhan surat itu tak satupun aku membalasnya, ada alasan aku tak membalas suratmu, ku harap engkau mengerti.
Marjolaine tersayang, terima kasih karena kau membalas perasaan cintaku ini. Lalu, biar ku tebak sampai saat ini kau masih mengenakan cincin platina itu di jari manismu bukan? Jika iya, apakah mulai saat ini kau bisa melepasnya?
Sepertinya Dewa memang tak ingin aku berbahagia walau hanya sedikit, maafkan aku. Aku tak bisa menepati janji yang dulu ku tuliskan lewat surat pertama yang ku kirim kepadamu. Aku tak bisa kembali dengan membawa kemenangan dan menikahimu di depan altar kuil suci yang berhiaskan patri kaca indah.
Maafkan aku sayang, aku tak bisa kembali sesuai dengan janjiku kepadamu. Kemenangan memang di dapat, namun aku tak bisa membawanya kembali. Mungkin, ketika aku kembali ke Blanche nanti, kau hanya akan melihat iringan pasukan agung yang menggotong peti matiku.
Maafkan aku sayang... Mungkin, ini akan menjadi surat terakhir yang akan kau terima dariku.
Marjolaine ku tersayang, meskipun aku tak kembali ke pelukanmu, meskipun aku takkan kembali ke dunia ini aku berhadap engkau bisa bahagia walau tanpa aku disisimu.
Terima kasih karena telah mencintaiku sampai saat ini, kini aku akan benar-bener pergi.
Theodore de Salazar
Tanganku bergetar membaca surat yang ia kirim kepadaku setelah sekian lama, ini pasti hanya bualannya saja, pasti. Aku tak mempercayai surat yang ia tulis ini, tapi aku tak bisa mengelak kali ini, surat yang ku terima di penuhi oleh bercak-bercak darah, entah bagaimana ia berusaha keras menulis surat itu untuk terakhir kalinya.
Aku tak mau percaya dengan kalimat selamat tinggal yang ia tulis pada surat ini, namun surat berikutnya yang datang bersama surat Theodore mengatakan bahwa Jenderal agung Theodore de Salazar wafat di ujung kemenangan Blanche.
“Jika pada akhirnya kau akan tewas mengapa kau menjanjikan hal indah kepadaku Sir Theodore?”, Aku menangis sejadi-jadinya, seluruh keluargaku mengetahui kenyataan pahit itu bahkan sebelum aku menerima surat ini.
Mereka menyembunyikannya dariku, bahkan Ayah yang peduli padaku meski membatasi pergerakanku pun tak memberitahukan kenyataan ini. Mereka tahu bahwa letak kebahagiaanku ada pada Sir Theodore. Mimpi-mimpi untuk bisa menjalani kehidupan bahagia dan hangat dengannya setelah perang usai tak lebih hanya sekedar imajinasi yang terasa nyata.
3 hari setelah surat itu datang, para pasukan kembali ke Kerajaan Blanche, tak ada pesta perayaan kemenangan. Hanya ada upacara kematian, Jenderal agung pemimpin perang itu, Theodore de Salazar tewas dan kini peti matinya di tandu oleh prajurit agung melewati jalanan yang terasa hening, keriuhan kemenangan pesta berakhir. Aku tahu, orang-orang tak benar-benar berduka atas kepergian Theodore, namun perasaan belasungkawa itu hanya sekedar formalitas saja. Kini, yang benar-bener berduka adalah aku, Marjolaine de Veronique, kekasihnya.
Aku memandangi wajah tampan Theodore untuk terakhir kalinya di dalam peti mati yang dihias dengan indah, bunga lily, mawar, dan iris putih memenuhi petinya bersama pedang agung yang ia gunakan. Aku mengelus wajahnya untuk terakhir kali dan mencium keningnya. Aku tak bisa menangis lagi, aku tak tahu ekspresi apa yang harus ku tunjukkan di depan mayat Theodore, aku terlalu terkejut, aku terlalu sedih karena kini, pria yang telah kembali itu hanya kembali sebagai manusia yang sudah tak bernyawa.
Tahun-tahun berikutnya kuhabiskan dengan mengurung diri di kamar, sejak kematian Theodore, belahan jiwaku, aku tak lagi mengenakkan gaun-gaun indah lantas hanya mengenakan gaun hitam karena aku masih berduka atas kematiannya. Aku mengasingkan diri dari pergaulan kelas atas, mengasingkan diri dari dunia. Aku tak berniat memberikan cintaku untuk pria lain meskipun permintaan lamaran terus berdatangan ke kediaman Veronique, karena semua cintaku telah kuberikan hanya kepada Theodore seorang.
Komentar
Posting Komentar