Tradisi dan Kontradiksi Pengenalan Kampus, Dihapuskan atau Malah Harus Dilestarikan?

OPINION ARTICLE

Kampus... Setiap tahun akan selalu ada cerita menarik seputar ospek atau masa orientasi mahasiswa atau saat ini sebutannya sudah berganti menjadi PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru), ah.. banyak sekali istilah untuk menyebut masa pengenalan ini. Tapi, mau sebutannya MOS, MPLS, OSPEK, atau PKKMB semuanya seakan disatukan dengan sebuah tradisi yang sama. Tradisi yang mungkin selalu ada di setiap generasi, tradisi yang mungkin dirasakan oleh setiap angkatan, ah tapi mungkin tradisi ini tidak berlaku untuk angkatan tahun 2020 dan 2021, karena di tahun tersebut Pandemi Covid 19 sedang aktif menginvasi setiap sendi kehidupan manusia tak terkecuali pada aspek pendidikan. Aku masih ingat betul di tahun itu seluruh kegiatan pendidikan khususnya OSPEK dilakukan via daring atau online, jadi mungkin tradisi itu tidak dirasakan oleh mereka.

Dari tadi, aku menyebut tradisi, tradisi, dan tradisi. Lantas apa sih tradisi yang kumaksud saat ini? Yah... pada dasarnya tradisi ini cukup buruk untuk dilakukan apalagi dilestarikan, aku sampai heran di era industri 4.0 ah tidak, mungkin kini sudah mulai masuk pada era industri 5.0, tradisi ini masih tumbuh subur di kampus-kampus, dan mirisnya kampus negeri yang masih menjunjung tinggi tradisi ini sampai sekarang. Hello... This 21th centaury man! But you still stuck with old and worst tradition? Ya tradisi yang kumaksud itu membentak, mengerjai, memberatkan, menyalah-nyalahkan, menggertak dan menguras kantong mahasiswa baru dengan dalih pelatihan kedisiplinan. 

Aku sampai bingung dengan makna dari sebuah masa pengenalan kampus. Sebagai seorang mahasiswa baru yang saat ini masih mengenyam bangku semester satu, pertanyaan-pertanyaan tentang makna ospek masih berputar mendistraksi pikiranku. Dengan bentakan-bentakan khas yang dilakukan oleh senior dengan kalimat-kalimat template yang dijunjung sejagat perkuliahan "Kehidupan kampus lebih berat dari ini dek!, "Jangan manja, dulu ospek kami lebih berat dek!", yah singkatnya itu kalimat-kalimat tamplate yang selalu dilontarkan oleh kakak-kakak tingkat yang maha senior.

Sebenarnya, aku tidak tahu dari mana asal muasal tradisi ini dimulai, setiap tradisi yang ada di dunia ini pasti ada sejarahnya, pasti ada sebab, dan pasti ada asalnya, tidak serta merta muncul begitu saja tanpa ada alasan dibaliknya, maka dari itu aku bingung apa yang menyebabkan sebuah tradisi yang menurut ku sudah kelewat zaman dan kampungan ini masih tumbuh subur di era globalisasi seperti sekarang.

Jika memang alasannya adalah kedisiplinan, mengapa hal-hal sesederhana make-up ikut dipermasalahkan, apa salahnya menggunakan sekadar bedak dan lip balm? bolehlah dipermasalahkan apabila make-up yang digunakan seperti seorang pengantin yang tebal, bahkan make-up tersebut sudah keburu luntur dengan keringat karena teriknya matahari. Dalam hal ini, satu yang menurut ku perlu digarisbawahi, peraturan seperti dilarang menggunakan make-up padahal kami sudah bukan anak SMP/SMA seakan berkontradiksi dengan senior yang memerintah itu, jika mau adil maka senior harus mengikuti peraturan yang sama selama masa orientasi, tidak peduli apapun jabatannya dalam kepanitiaan ospek, seluruh elemen atau pihak yang terlibat juga harus menaati peraturan konyol itu. Lucunya, yang memberikan perintah malah menggunakan entah berapa lapis make-up hingga perbedaan tone warna kulit wajah dan lengan sangat terlihat. Bukan ingin menghina tapi seperti itulah kenyataan yang aku lihat selama melaksanakan kegiatan ospek.

Belum lagi dengan tugas-tugas meresahkan yang entah apa tujuannya, aku yakin dari sekian ribu mahasiswa baru yang mengerjakan tugas tersebut tidak ada satupun yang dilihat oleh panitia ospek. Sekarang, logikanya begini siapa sih yang mau melihat ribuan video yang bahkan isinya hampir sama? aku yakin 5 menit berkutat dengan video-video tersebut tanpa ragu akan langsung mengklik ikon CLOSE. Ada satu pengalaman yang sampai saat ini tidak bisa aku lupakan, mungkin tidak hanya aku tapi seluruh angkatanku.

Ketika itu kami disuruh untuk mengeprint semua penugasan yang telah diselesaikan, entah berapa lama kami begadang untuk mengantre di rental dan warnet, entah berapa uang yang kami keluarkan untuk print warna yang bukan cuma selembar. Kami berusaha agar penugasan itu dapat kami selesaikan sehingga keesokan harinya dapat kami serahkan dengan bangga, namun satu yang membuat kami miris, bahkan sekadar pertanyaan "Tugas print penugasan sudah dek?" tidak keluar dari mulut si paling senior itu. Kami seperti melakukan pekerjaan sia-sia dan foya-foya, uang yang seharusnya dapat digunakan untuk membeli seporsi atau mungkin dua porsi makanan, terbuang percuma untuk hal yang bahkan tidak bisa dinikmati. Uang itu ibarat jantung anak rantau, jika jantung tersebut diambil apa tidak mati?

Ditambah dengan teriakan-teriakan dan suara sirine dari megaphone yang terus berbunyi sepanjang ospek berlangsung, selama 6 hari itu terhitung dari ospek universitas dan di tingkat fakultas, suara-suara bising tersebut sukses mendistraksi pendengaranku selama beberapa lama. Pertanyaannya begini, tujuannya apa sih melakukan hal melelahkan seperti berteriak dan membentak? Kami bukanlah penjahat yang harus diperlakukan kasar, kami adalah calon-calon akademisi yang akan membangun negeri ini, tradisi semacam itu.... yakin masih harus dilestarikan? Mungkin ini salah satu alasan mengapa pendidikan di Indonesia tidak maju-maju, karena tradisi aneh nan menjengkelkan ini sekali lagi masih tumbuh tanpa hambatan seperti ilalang di padang bunga.

Setiap tahun, setiap kali pelaksanaan ospek, aku merasa seperti ada yang kurang apabila tidak diselingi hal-hal tidak berguna seperti itu, sangat lucu ketika senior mengatakan "Kalian yang cepet dong kerjanya, waktu kita habis terbuang karena kalian lambat", "Dipercepat jalannya dek!!", "Karena ketidakdisiplinan kalian, rundown yang sudah disusun semuanya MOLOR!", hello....sekali lagi aku bertanya "Kakak tidak ngaca?", pada dasarnya yang menghambat waktu adalah panitia itu sendiri yang sibuk membentak-bentak dan mengatakan hal-hal tidak berguna. Aku ingin sekali berkata dengan gamblang bahwa merekalah yang menghambat waktu mereka sendiri, bukan MABA. Kami hanya menuruti perintah, tidak mungkin kan kami dengan sembrono menyelonong masuk ke dalam ruangan? nanti salah lagi. Apa sih tujuannya membuat Mahasiswa Baru selalu dalam posisi maju kena mundur kena? selalu di posisi serba salah? Selalu di posisi keluar mulut buaya masuk ke mulut harimau?

Tradisi aneh ini seakan sudah mengakar dan menjadi sebuah lingkaran setan untuk setiap generasi dan angkatan, kenapa tidak ada yang mau berubah? Apa yang salah? Sistem? Mahasiswanya? Panitia? Pihak Kampus? Dosen? Atau sejarahnya? Zaman sudah semakin maju, generasi saat ini sudah mampu berpikir kritis dan sulit dibodohi dengan sekadar ancaman punishment dari kegiatan ospek. Kenapa tidak ada yang mau menghentikan? Seakan sudah terpatri menjadi dendam, semua dilampiaskan pada anak baru yang memiliki harapan. Jika seandainya, jika menurutnya, jika katanya, zaman ospek senior adalah yang terberat, mengapa harus mengulangi hal yang sama? Karena dendam? Karena merasa tidak adil? Jika begitu mengapa tidak lampiaskan dendam dan ketidakadilan itu dengan ospek yang lebih manusiawi dan normal tanpa ada konflik dan perdebatan tak berbobot? Tanpa ada kegiatan mempermalukan mahasiswa baru, tanpa ancaman, tanpa amarah, dan tanpa "pungutan liar"?

Sebenarnya... Apa sih alasan dan tujuan melestarikan tradisi yang sudah seperti lingkaran setan ini? supaya ditakuti oleh junior? Supaya dihormati? Supaya bisa merasakan kepahitan ospek kakak senior? Jika alasannya hanya sebuah latihan kedisiplinan, maka Pramuka yang sering dihina lebih manusiawi daripada ospek, jika alasannya hanya untuk seru-seruan, mengapa tidak mengadakan festival pengenalan kampus saja untuk mahasiswa? mengapa tidak menyambut kami dengan senyum melainkan dengan amukan tidak jelas? Jika alasannya bahwa dunia perkuliahan dan pekerjaan lebih kejam, maka menurut ku hal itu kembali kepada diri masing-masing. Kami datang ke kampus dengan harapan bisa diperlakukan selayaknya seorang akademisi yang akan membangun negeri bukan penjahat yang merusak negeri. Kami datang ke kampus dengan harapan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dan menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa, bukan diserap uang sakunya habis-habisan untuk barang-barang ospek yang tidak berguna.

Tidak ada salahnya memanusiakan manusia hal itu tidak akan membuat para senior kehilangan harga dirinya kok, aku yakin malah kami sebagai mahasiswa baru akan merasakan betapa berwibawanya, betapa hebatnya, dan betapa bersahajanya seorang senior dihadapan juniornya. Menurutku... definisi seorang senior bukanlah dia yang superior dan bertindak sembrono, namun senior adalah dia yang bisa memperlihatkan sebuah contoh bagaimana seseorang terjun dan berguna untuk masyarakat, tanpa perlu hardikan maupun ancaman. Kita semua adalah calon akademisi yang akan membangun negeri ini di masa yang akan datang, apabila sistem dan tradisi buruk ini tidak bisa diubah maka pola pikir anak muda hanya sebatas pada memperlakukan orang lain seenaknya dengan emosi dan tindakan semena-mena adalah satu-satunya cara dalam membentuk kedisiplinan seseorang, adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.

Ada satu nasehat yang sampai saat ini masih aku pegang, nasehat yang berasal dari seorang senior yang sampai saat ini aku kagumi, seorang lulusan ilmu politik di salah satu universitas berbadan hukum yang paling terkenal, salah seorang anggota Pramuka yang sempat menjadi tutorku ketika di bangku SMP dulu. Ia berkata begini "Sebagai seorang senior, ada baiknya kamu di segani daripada ditakuti. Jika juniormu menyegani kamu otomatis dia juga takut padamu, namun apabila juniormu hanya takut kepadamu, belum tentu ia akan segan kepadamu.", maka dari itu hingga kini aku berusaha untuk menjadi seorang senior yang baik untuk juniorku, dan menjadi junior yang menyegani seniornya. Simbiosis ini sangat berguna apabila terus diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik ketika berinteraksi dengan senior maupun dengan junior.

Suatu kali... aku pernah berpikir seperti ini, apabila aku menjadi panitia pengenalan kampus, maka tidak akan kubiarkan adik-adikku merasakan hal yang sama sepertiku. Cukup sampai pada angkatanku saja merasakan pahitnya masa-masa pengenalan kampus. Jika tradisi buruk ini dapat berhenti pada angkataku, maka aku yakin lambat laun tradisi ini akan musnah dan hilang dengan sendirinya. Ingatlah suatu tradisi tidak akan pernah hilang apabila masih ada yang mencoba untuk melestarikannya. Apabila tradisi itu baik maka sah-sah saja untuk dilakukan secara berulang, namun jika tradisi itu buruk, maka pertanyaannya harus dihapuskan atau tetap dilestarikan?



    

Komentar

  1. Wkwkwkw jadi ingat pas ospek kemarin " di percepat jalannya dek! INI BUKAN JALAN SEHAT! LARI DEK!"

    Me: " Maaf kak sepatu saya jebol"
    Dan hening.... WKWKWKW

    BalasHapus
  2. Mending dihilangin aja gk sih? Wkwkwk kegiatan gak guna, dengan mengancam "tidak dapat sertifikat buat syarat skripsi an" eh taunya temen saya yang meninggal sebelum ospek malah dapet juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW MANHWA : I'M STANNING THE PRINCE

REVIEW MANHWA : THE DUCHESS' 50 TEA RECIPES (50 RESEP TEH DUCHESS)

Catatan Etnografis - Hidden Gem dari Madura, Kamal Sebagai Pusat Maritim di Kabupaten Bangkalan? Apakah Bisa?

CULTURE SHOCK? Kehidupan Kampus Ternyata....

Suramadu, Tolak Ukur Kemajuan Madura?

LA LETTRE D'AMOUR (CERPEN)

Dibodohi Oleh Dongeng

APLIKASI KOMIK ONLINE INI WAJIB ADA DI SMARTPHONE KALIAN PARA 2D LOVERS!

DIA YANG HADIR DI HARI HUJAN (CERPEN)