CULTURE SHOCK? Kehidupan Kampus Ternyata....
EXPERIENCE ARTICLE
Tidak terasa, aku sudah melewati masa SMA selama tiga tahun lamanya. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aku merupakan lulusan satu-satunya madrasah negeri yang ada di Bangkalan, sebuah kota sekaligus ibukota Kabupaten, tanah kelahiranku yang dijuluki sebagai kota santri. Ya, aku adalah mantan santri yang bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri Bangkalan angkatan 41 dan lulus pada bulan Juli 2022 lalu.
Kini, aku menginjak bangku perkuliahan dan lagi-lagi mengenyam pendidikan strata 1 di satu-satunya kampus negeri di Pulau Madura, apalagi kalau bukan Universitas Trunojoyo Madura. Ya, aku berkuliah di sana, di sebuah tempat yang sekalipun tak pernah ada dalam bayangan ku dengan program studi Ilmu Komunikasi sebagai jurusan yang kini aku pilih dan tekuni.
Selama bertahun-tahun aku memimpikan sebuah kehidupan kampus yang luar biasa indah, bak di sinetron-sinetron picisan. Selama ini aku hanya bisa mendengar dari orang lain bahwa kehidupan kampus itu menyenangkan, asyik, bla bla bla. Namun ya, aku cukup realistis saja tak mungkin realita yang ada akan persis seperti kehidupan kampus ala sinetron Indonesia yang khas dengan ribuan episodenya.
Terhitung sudah 2 bulan aku berkuliah, yang dimulai sejak awal Agustus 2022 lalu. Dan jujur saja aku cukup shock dengan culture yang ada pada dunia perkuliahan yang luar biasa besar ini. Ada banyak hal yang ternyata tak sesuai dengan bayanganku. Dalam hal ini, entah aku yang polos atau kelewat naif.
Sebagai putri daerah, yang notabene kampus tercintaku ini memiliki jarak yang cukup dekat dari rumah, sama seperti teman-temanku yang berasal dari luar Madura, aku juga mengalami culture shock, bahkan beberapa kali sampai merasa speechless, dan kadang selalu berpikir "Kok bisa seperti ini?", "Loh? Kok begini ya kehidupan kampus?", "Kehidupan kampus benar-benar gila!".
Tentu pikiranku itu bukan tanpa alasan, sejak kali pertama aku menginjakkan kaki di Kampus, ada banyak culture dan habit yang mungkin keliatannya biasa tapi bagiku sangat tidak biasa dan cukup annoying. Seperti contoh, ada banyak sekali Mahasiswa yang merokok entah itu di kantin, taman kampus, perkumpulan, maupun rapat, kalian tahu apa yang ada dipikiran ku saat itu? "Hah? Di kampus merokok dibiarkan? Tidak ada sanksi?" cukup konyol memang karena pada dasarnya rata-rata usia mahasiswa adalah usia dewasa dari 18-23an, jadi mungkin bagi orang lain dan pihak kampus hal itu wajar-wajar saja asal tidak menghisap ganja atau sabu, merokok di lingkungan kampus menjadi hal yang biasa, sah, dan lumrah. Namun menurutku, yang selama ini hanya dikelilingi orang-orang yang tidak merokok merasa aneh dan terganggu.
Jika merokok di lingkungan kampus masih merupakan hal yang wajar dan aku cukup menerima adanya culture dan habit itu sendiri, lain halnya dengan konsumsi minuman keras dan praktek mesum di lingkungan akademik ini. Pernah suatu kali ada sebuah konser yang diadakan oleh pihak kampus sebagai puncak acara penerimaan mahasiswa baru yang pada sesi ini dibuka untuk umum, semua boleh datang asalkan membayar. Aku, yang memang tidak terlalu suka dengan kebisingan dan hiburan malam seperti konser memilih untuk tidak datang dan mengerjakan tugas yang memang tenggatnya sudah hampir dekat.
Banyak cerita sehari setelah konser itu yang aku dengar dari teman-teman sejawat yang memang hadir disana, aku cukup terkejut dan speechless dengan cerita mereka, percaya atau tidak di sela-sela gemuruhnya konser ada oknum-oknum yang sengaja membawa botol-botol berisi minuman keras, entah itu tuak, oplosan atau apalah itu sebutannya, dan lebih mirisnya lagi, acara ini juga dimanfaatkan pasangan muda-mudi tak tahu malu untuk berbuat asusila, entah hanya sekedar saling rangkul, berpelukan, bercumbu, bahkan mungkin hingga berbuat seperti itu (we never know!). Entah benar atau tidak cerita itu, namun apabila benar cukup disayangkan lingkungan yang seharusnya ramah untuk kaum akademisi dijadikan tempat untuk pesta pora dan bermaksiat. Banyak yang bilang bahwa hal-hal seperti itu sudah biasa terjadi di dunia perkuliahan. Apalagi dengan anak-anak yang sudah menginjak usia dewasa dan jauh dari orang tua karena merantau kemari menjadikannya merasa lebih bebas tanpa tali kekang yang membatasinya seperti dulu.
Aku, sebagai mantan santri yang bersekolah di Madrasah Aliyah cukup kaget dengan kehidupan kampus yang benar-benar bebas, bahkan antara hal duniawi, agama, akhirat, laki-laki, dan perempuan seperti tidak ada batasan, dalam hal ini maksudnya lebih kepada dipertemukan dengan anak-anak yang perhatiannya terhadap ibadah kurang, bercanda dengan membawa-bawa agama, praktek rasisme (meskipun tidak dilakukan secara gamblang dan verbal), serta adanya hubungan laki-laki dan perempuan yang kelewat dekat bahkan mungkin ada praktek LGBTQ juga meski tak terlihat blak-blakan, sekali lagi aku katakan we never know!. Perbedaan yang cukup drastis dengan kehidupan SMA ku dulu.
Kemudian ada praktek-praktek saling menjatuhkan antara satu sama lain bahkan berusaha menjatuhkan yang lain dengan kesalahan yang dibuatnya sendiri. Aku berpikir bahwa kehidupan kampus cukup toksi, aku sempat frustasi karena kehidupan kampus yang aku bayangkan tidak seperti ini. Aku selalu bertanya-tanya, kira-kira apasih faktor yang menyebabkan adanya kehidupan toksik di Kampus ini?
Jika mahasiswa lain mengeluhkan soal tugas-tugas yang berbeda 180' dengan tugas ketika di SMA, maka aku mengeluhkan tentang toksiknya dunia perkuliahan masa kini, untuk tugas sendiri merupakan bagian dari resiko memilih KULIAH untuk melanjutkan perjalanan dari jenjang SMA, kalau tidak mau ada tugas tidak usah kuliah begitu simpelnya.
Namun ya, dibalik toksiknya dunia perkuliahan yang mungkin akan selalu ada, aku cukup bersyukur karena Tuhan yang Maha Penyayang masih mendatangkan teman-teman baik yang mengerti dan se-frekuensi ini kepadaku. Aku berterimakasih, kalau manusia-manusia ini tidak hadir dalam kehidupan ku mungkin aku sudah gila di tengah hiruk pikuk dan ruwetnya pergaulan kampus.
Aku cukup bisa menerima culture dan habit yang meskipun tidak biasa dan kadang serong sebagai bagian dari cerita serta perjalanan hidup yang tidak selamanya sama seperti yang aku inginkan, ada kalanya keburukan yang aku liat sebagai sebuah pelajaran untuk diriku sendiri, bahwa hal terburuk pun bisa menambah wawasanku bahwa dunia tidak hanya berpusat padaku, bahwa dunia itu luas dan bukan hanya "duniaku", bahwa hal seperti pergaulan dan kampus adalah hal yang sederhana sekaligus rumit untuk dipahami. Aku mengerti bahwa perbedaan selalu ada, namun sebagai seorang Muslim, dan kaum intelektual yang baik, menjaga batasan pada segala hal adalah solusi terbaik untuk semuanya.
Artikel ini kutulis berdasarkan pengalaman dan apa yang aku lihat selama ini, jika SOBAT HIRA punya opini dan experience lain terkait dunia perkuliahan, yuk jangan segan buat berbagi di kolom komentar!
keren banget kak hiraaa, semangattt๐๐
BalasHapusARIGATHANKS!!!! :D
HapusManteeep keren
BalasHapusaku suka cara pandang kakak tentang kehidupan dunia perkuliahan. bisa menjadikan suatu sudut pandang baru tentang perbedaan dunia perkuliahan dan SMA dalam aspek bersosial
BalasHapus